Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Sabtu, 06 November 2010

Doa Yang Cepat Dikabulkan


Orang-orang yang Mustajab Do’anya

Berdasarkan hadits-hadits yang akan disampaikan berikut ini, terdapat tujuh kelompok orang yang do’anya pasti diijabah oleh Allah, mereka itu ialah; 1) Orang yang dizhalimi, 2) Orang yang sedang bepergian, 3) Orang Tua kepada anaknya, 4) orang yang shaum, 5) Pemimpin yang adil, 6) Seorang Muslim kepada saudaranya, 7) Anak kepada orang tuanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga do’a yang diijabah, tidak ada keraguan padanya: Do’a orang yang dizhalim, do’a orang yang sedang bepergian, dan do’a orangtua terhadap anaknya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga orang yang do’anya tidak ditolak, do’a orang yang shaum sampai ia berbuka, do’a pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizhalimi, Allah mengangkatnya di atas mega. Dan Allah membukakan baginyapintu-pintu lamhit, dan berfirman, demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun sampai akhir zaman. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ

Do’a seorang muslim kepada saudaranya di belakangnya (dari jauh) diijabah (HR. Muslim)

أَرْبَعٌ دَعْوَتُهُمْ مُسْتَجَابَةٌ : الإِمامُ اْلعادِلُ , والرجل يدعو لأخيه بظهر الغيب , و دعوة المظلوم , و رجل يدعو لوالديه (رواه أبو نعيم عن واثلة)

Empat orang yang do’anya diijabah; pemimpin yang adil, seseorang yang mendo’akan saudaranya di belakangnya, do’a orang yang dizhalimi, dan seorang yang mendo’akan orang tuanya. (HR. Abu Nu’aim dari Watsilah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ (احمد:10202)

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah Azza wa jalla mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Lalu si hamba itu bertanya, Ya Rabbi, saya mendapatkan semua ini dari mana? Maka Allah menjawab, Berkat permohonan ampunan anakmu bagimu. (HR. Ahmad)

1. Orang Yang dizhalimi

Do’a orang yang dizhalim itu diangkat di atas mega dan Allah membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Dia berfirman, Demi kemulian-Ku Aku akan menolongmu walau sampai akhir jaman.

Bahkan ada hadits yang menerangkan bahwa idak ada hijab antara Allah dengan orang yang dizhalimi ketika ia berdo’a kepada Allah. Dan do’a orang yang dizhalimi itu tetap akan diijabah meskipun ia orang yang durhaka. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap perbuatan zhalim, termasuk kepada istri dan anak, karena do’a mereka besar kemungkinan akan diijabah oleh Allah.

2. Orang Yang Sedang Bepergian

Ketika sedang bepergian, sebaiknya kita mendo’akan keluarga yang ditinggalkan, karena termasuk orang yang besar harapan diijabah.

3. Orang tua kepada Anaknya

Do’a seorang ibu, pasti diijabah walaupun ia mendo’akan kejelekan bagi anaknya.

Sebagai ibrah, dapat kita perhatikan tentang kisah Juraij, seorang yang ahli ibadah, ketika sedang shalat, ia dipanggil oleh ibunya, namun ia berpikir lebih baik melanjutkan shalatnya terlebih dahulu, lalu memenuhi panggilan ibunya. Namun ternyata ibunya tidak ridho, merasa sakit hati dan ia berdo’a kepada Allah, “Yaa Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum ia dipermalukan”. Ternyata do’a ibu tersebut diijabah oleh Allah. Pada suatu hari, ketia Juraij sedang berada di rumahnya, datang kepadanya seorang wanita binal menggodanya, namun Juraij menolaknya. Wanita tersebut, merasa sakit hati, lalu ia berzinah dengan seorang penggembala, lalu ia hamil dan melahirkan seorang bayi, dan ia umumkan kepada masyarakat bahwa bayinya itu merupakan hasil perbuatan mesumnya dengan Juraij. Tentu saja Juraiz sulit membantah, sehingga masyarakat marah kepadanya dan menghancurkan rumahnya. Lalu Juraij shlat dua rakaat dan mohon kepada Allah agar ditunjukkan kebenarannya. Lalu Juraij mendatangi anak tersebut dan bertanya kepadanya, siapa ayahmu? Bayi tersebut menjawab, ayahku adalah seorang penggembala.

4. Orang Yang Shaum sampai berbuka

Orang yang sedang shaum, baik shaum wajib ataupun sunat, do’anya akan diijabah oleh Allah sehingga ia berbuka dari shaumnya.

5. Pemimpin yang Adil

Pemimpin yang adil itu selain membawan mashlahat bagi rakyatnya, ia pun do’anya diijabah oleh Allah.

6. Seorang Muslim kepada saudaranya

Dalam tradisi kita, meminta dido’akan itu suka dihadapan kita. Padahal justru do’a yang diijabah itu adalah do’a dari sesama muslim tanpa sepengetahuan dari orang yang dido’akannya.

Biasanya do’a yang diucapkan di hadapan orang yang dido’akannya memliki kecenderungan pamrih. Sementara doa yang dipanjatkan dibelakang rang yang dido’akannya menunjukkan kualitas keikhlasan do’anya serta adanya hubungan batin di antara mereka.

7. Anak yang Mendo’akan orang tuanya

Do’a seorang anak kepada orang tuanya memiliki kualitas yang sama dengan do’a orang tua kepada anaknya. Do’a seorang anak kepada orang tuanya didasari dengan kecintaan. Sehingga ketika berdo’a dipenuhi dengan keikhlasan dan kekhusuan.

Saat-saat Mustajabnya Do’a

1. Dua pertiga malam. Berdasarkan hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ (البخاري:1077)

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Tuhan kita Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam, pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku pasti Aku kabulkan, barangsiapa meminta kepada-Ku pasti Aku beri, dan barangsiapa yang memohon ampunan-Ku pasti Aku ampuni . (HR. Bukhari)

2. Antara adzan dan qomat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّعْوَةُ لَا تُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا (احمد : 12878)

Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Do’a antara adzan dan qomat tidak ditolak, maka berdo’alah kamu. (HR. Ahmad)

3. Waktu Jum’at

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا (البخاري : 883)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw menerangkan bahwa pada hari Jum’at ada satu waktu yang seorang muslim berdo’a kepada Allah Ta’ala dalam shalatnya bertepatan dengan waktu itu, pasti Allah akan memenuhinya. Nabi berisyarat dengan tangannya, menimbang-nimbangnya. (HR. Bukhari)

4. Sesudah Shalat Fardhu

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ (الترمذي :3421)

Dari Abu Umamah ia berkata, Rasul ditanya, Ya Rasulallah, do’a yang manakah yang akan didengar (oleh Allah), beliau menjawab, ketika tengah malam terakhir dan setiap selesai shalat yang wajib. (HR. Tirmidzi)

Tiga yang pertama, saat-saat mustajab do’a, dilakukan dalam shalat. Yaitu ketika shalat tahajud yang dilakukan pada dua pertiga malam, ketika shalat sunat setelah adzan sebelum qomat, dan ketika sholat jum’at. Berdasarkan firman Allah,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (البقرة:45)

Adapun kesempatan kita untuk berdo’a dalam shalat tersebut dilakukan ketika sujud dan setelah do’a tasyahud akhir. Rasulullah saw bersabda:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ (مسلم)

Ingatlah, sesungguhnya aku dilarang membaca al-Qur’an sambil ruku’ atau sujud. Pada waktu ruku’ maka agungkanlah Allah Azza wa Jalla. Adapun pada waktu sujud bersungguh-sungguhlah berdo’a, besar harapan do’a kamu akan diijabah. (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (مسلم)

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Saat yang paling dekat seseorang dengan Tuhannya, ketika ia sujud, maka perbanyaklah olehmu do’a. (HR. Muslim)

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (مسلم : 926)

Apabila seseorang di antara kamu selesai tasyahud akhir, maka berlindung dirilah kepada Allah dari empat perkara; dari azab jahannam, dari gangguan waktu hidup dan mati, dan dari kejahatan al-masiih al-dajjal. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.

Do’a-do’a yang diajarkan Oleh Rasul dalam shalat (ketika sujud atau setelah tasyahhud akhir)

1. عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ (البخاري :789)

Dari Aisyah, Istri Rasulullah saw, ia mengabarkan bahwasanya Rasulullah saw pernah berdo’a dalam shalatnya, allaahumma innii a’uudzu bika …, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari finah al-masih al-Dajjal, aku berlindung kepadamu dari finah hidup dan fitnah mati, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan tenggelam dalam hutang.

Sesungguhnya seorang yang berhutang biasanya kalau ditagih, bicaranya suka dusta,janjinya suka dikianati.

2. عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ (النسائي: 1287)

Dari Syaddad bin ‘Aus bahwasanya Rasulullah saw pernah berdo’a dalam shalatnya, allaahumma innii as-aluka …, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu ketetapan dalam urusanku,

3. عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (البخاري :790)

Dari Abu baker al-Shiddiq, ia pernah berkata kepada Rasul, “Ajarilah aku suatu do’a yang akan aku panjatkan dalam shalatku! Rasul menjawab, bacalah, Allaahumma innii zhalamtu … “Ya Allah aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang besar, Tidak ada dzat yang dapat mengampuni seluruh dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

4. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (مسلم : 751)

Dari abu Hurairah, dari Aisyah, ia berkata, pada suatu malam, akau kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur, maka aku mencarinya, lalu dua tanganku mengenai kedua telapak kakinya yang lagi berdiri tegak (sedang sujud), sedangkan beliau sedang berada di masjid, waktu itu beliau berdo’a, allaahumma a’uudzu biridhaaka …, Yaa Allah aku berlindung dengan keridhan-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, tidak terhitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaiman yang Engkau sanjungkan terhadap dari-Mu.

5. عَنْ أَبى هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ لَقَدْ تَحَجَّرْتَ وَاسِعًا يُرِيدُ رَحْمَةَ اللَّهِ (احمد:7469)

Dari Abu hurairah, ia berkata, Rasulullah saw berdiri untuk melaksanakan shalat, maka kami pun berdiri bersamanya. Seorang arab berdo’a dalam shalat tersebut, yaa Allah rahmatilah saya dan nabi Muhammad, dan janganlah kau berikan rahmat bersama kami kepada yang lainnya, setelah selesai salam, beliau berkata kepada orang arab tersebut, kamu ini serakah, masih banyak orang yang mengharapkan rahmat Allah.

Dzikir dan Do’a Setelah Shalat Fardhu

6. عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (مسلم : 931)

Dari Tsauban, ia berkata, Apablia Rasulullah saw telah selesai dari shalat fardhunya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali, lalu beliau membaca, Allaahumma antas salaam, Ya Allah Engkaulah Yang Maha Selamat, dan dari-Mulah keselamatan, Maha berkah Engkau Dzat Yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Al-Walid berkata, aku bertanya kepada al-Auza’I, bagaimanakah cara mengucapkan istighfarnya? Ia menjawab, astaghfirullah astaghfirullah. (Muslim no. 931)

7. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (مسلم :939)

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, belaiau bersabda, barang siapa yang bertasbih setiap selesai shalat sebanyak 33 kali, lalu bertahmid sebanyak 33 kali dan bertakbir sebnayak 33 kali, itu semua menjadi 99 kali, ia berkata, dan sempurna menjadi 100 dengan laa ilaa ha illallaah … (tidak ada tuhan melainkan Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kekuasaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) pasti dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan. (H.R. Muslim no. 939)

8. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Sesungguhnya Rasulullah saw suka berlindung kepada Allah setiap selesai shalat dengan do’a, Allaahumma innii a’uudzubika … (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari … dan aku berlindung ekpada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang hina dan aku berlindung kepada-mu dari fitnah di dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur)

9. عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari Mua’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah saw memegang tangannya lalu bersabda, wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku menyayangimu, demi Allah sungguh aku menyayangimu, aku akan berwasiat kepadamuya Mu’adz, janganlah kau tinggalkan setiap selesai shalat bacaan, allaahumma a-‘innii ‘alaa dzikrika … (Yaa Allah tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, untuk senantiasa syukur kepada-Mu dan untuk senantiasa baik dalam mengabdi kepada-Mu).

oleh : Al-Ustadz, KH. Drs, Shiddiq Amin, MBA

Selasa, 26 Oktober 2010

Hikmah Ilahi di Balik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami


Orang2 berbeda pendapat dlm gempa. Ada yg mengatakan bahwa gempa merupakan peristiwa yg bersifat alami tdk ada kaitan dgn agama. Sebagian lain mengatakan bahwa gempa merupakan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yg tdk ada kaitan dgn dosa. Ada lagi yg mengatakan bahwa gempa merupakan kejadian utk membuat takut manusia dan tiada kaitan dgn dosa. Sebagian lagi mengatakan bahwa gempa terjadi disebabkan oleh dosa manusia.
Jawaban –Allah Subhanahu wa Ta’alalah yg memberikan taufiq utk kebaikan dan kebenaran– sesungguh gempa itu utk menciptakan rasa takut dan ia dgn qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Gempa juga terjadi disebabkan dosa-dosa manusia. Dengan demikian terjadi gempa adl utk membuat takut manusia yg hidup yg menyaksikan kejadian itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِّنْ قَرْيَةٍ إِلاَّ نَحْنُ مُهْلِكُوْهاَ قَبْلَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ أَوْ مُعَذِّبُوْهاَ عَذَاباً شَدِيْدًا كاَنَ ذَلِكَ فِي الْكِتاَبِ مَسْطُوْرًا. وَماَ مَنَعَناَ أَنْ نُرْسِلَ بِاْلآياَتِ إِلاَّ أَنْ كَذَّبَ بِهاَ اْلأَوَّلُوْنَ وَآتَيْناَ ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهاَ وَماَ نُرْسِلُ بِاْلآياَتِ إِلاَّ تَخْوِيْفاً

“Tidak ada satu negeripun melainkan Kami membinasakan sebelum hari kiamat atau Kami azab dgn azab yg sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dlm kitab . Dan sekali-kali tdk ada yg menghalangi Kami mengirimkan tanda-tanda melainkan krn tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang2 dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu yg dapat dilihat tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tdk memberi tanda itu melainkan utk menakuti.”
Ayat yg menerangkan bahwa gempa merupakan kejadian dgn qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala adl firman-Nya:

مآ أَصاَبَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتاَبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهاَ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ

“Tiada satu bencanapun yg menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dlm kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguh yg demikian itu adl mudah bagi Allah.”

ماَ أَصاَبَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada satu musibahpun yg menimpa seseorang kecuali dgn izin Allah. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Adapun bahwa gempa disebabkan dosa-dosa sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Kitab-Nya yg mulia:

ماَ أَصاَبَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِماَ كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيْرٍ

“Dan musibah apa pun yg menimpa kamu mk adl disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar .”

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهاَ غاَفِلُوْنَ

“Yang demikian itu adl krn Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya sedangkan penduduk dlm keadaan lengah .”

وَماَ كاَنَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهاَ مُصْلِحُوْنَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tdk akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedang penduduk orang2 yg berbuat kebaikan.”

وَكَمْ أَهْلَكْناَ مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيْشَتَهاَ فَتِلْكَ مَساَكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلاَّ قَلِيْلاً وَكُناَّ نَحْنُ الْوَارِثِيْنَ. وَماَ كاَنَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِيْ أُمِّهاَ رَسُوْلاً يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياَتِناَ وَماَ كُناَّ مُهْلِكِي الْقُرَى إِلاَّ وَأَهْلُهاَ ظاَلِمُوْنَ

“Dan berapa banyak negeri yg telah Kami binasakan yg telah bersenang-senang dlm kehidupannya. mk itulah tempat kediaman mereka yg tiada didiami sesudah mereka kecuali sebagian kecil. Dan Kami adl pewarisnya. Dan tidaklah Rabbmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yg membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tdk pernah Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduk dlm keadaan melakukan kezaliman.” 1
Gempa juga merupakan adzab bagi orang yg jahat sebagaimana lalu dan sebagai rahmah kepada seorang muslim. Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dlm kitab Shahih kedua dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنَ وَالْمَبْطُوْنَ وَالْغَرِيْقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Para syuhada itu ada lima golongan: yg terkena tha’un mabthun2 tenggelam terkena reruntuhan dan yg syahid di jalan Allah.”
Karena orang yg mati krn tertimpa reruntuhan menjadi syahid di jalan Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dewasa atau anak kecil laki2 ataupun wanita. Kaum muslimin yg shalih serta anak-anak mereka terkena musibah akibat dosa yg dilakukan oleh selain mereka3 sebagaimana firman-Nya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خآصَّةً واعلموا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقاَبِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yg tdk khusus menimpa orang2 yg zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dlm kitab Shahih kedua dari Aisyah radhiallahu ‘anha ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كاَنُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ اْلأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ

“Sekelompok pasukan perang ingin menyerang Ka’bah. Hingga ketika mereka berada di tempat yg bernama Al-Baida’ dari bumi ini mereka ditenggelamkan ke dlm perut bumi awal hingga akhir . Kemudian mereka akan dibangkit sesuai dgn niat-niat mereka.”
Demikian pula gempa menjadi cobaan bagi keluarga yg meninggal krn reruntuhan itu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ. وَلاَ تَقُوْلُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيآءٌ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُوْنَ. وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Hai orang2 yg beriman mintalah pertolongan dgn sabar dan shalat. Sesungguh Allah beserta orang2 yg sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang2 yg gugur di jalan Allah mati; bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tdk menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dgn sedikit ketakutan kelaparan kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yg sabar orang2 yg apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yg mendapat keberkatan yg sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang2 yg mendapat petunjuk.”
Gempa pun menjadi peringatan atas jauh seseorang dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عاَمٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوْبُوْنَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali tiap tahun kemudian mereka tdk bertaubat dan tdk mengambil pengajaran?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula mengisahkan tentang Nabi Yunus ‘alaihissalam:

فَلَوْلاَ كاَنَتْ قَرْيََةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهاَ إِيْمَانُهاَ إِلاَّ قَوْمَ يُوْنُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْناَ عَنْهُمْ عَذَابَ الْحِزْيِ فِي الْحَياَةِ الدُّنْياَ وَمَتَّعْناَهُمْ إِلَى حِيْنٍ

“Dan mengapa tdk ada suatu kota yg beriman lalu iman itu bermanfaat kepada selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman Kami hilangkan dari mereka azab yg menghinakan dlm kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yg tertentu.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita utk kembali kepada Allah dan berhukum dgn Kitabullah serta Sunnah Rasul-Nya serta utk menghilangkan kemaksiatan yg di hotel-hotel. Juga melarang berbaur siswa laki2 dan perempuan di perguruan tinggi serta menghilangkan pembunuhan terhadap jiwa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan kecuali yg dibenarkan.
Demikianlah adapun orang yg mengatakan bahwa gempa itu hanya bersifat alami mk dia sesungguh orang yg ingkar terhadap ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguh matahari dan rembulan adl dua tanda kebesaran Allah. Tidaklah kedua gerhana disebabkan oleh kematian seseorang atau kehidupan seseorang akan tetapi Allah menimpakan rasa takut kepada hamba-Nya dgn keduanya. mk bila kalian melihat itu berdoalah kepada Allah hingga tersingkap gerhana itu”
Orang yg mengatakan: “Ini hanya peristiwa alam” berarti ia telah mencela kemuliaan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi-Nya di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahi Nabi-Nya bencana bagi orang2 yg mengingkari mereka . Semoga Allah menghancurkan sikap pengingkaran ini yg merupakan bencana jelek bagi agama-agama langit.

1 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dgn sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn bertobat.” -ed.
2 Yaitu yg terkena penyakit perut yaitu ascites akibat lever dan perut membusung. dlm penafsiran lain: Diare. dlm penafsiran lain: Yang sakit perutnya. -ed.
3 Maksud ketika musibah menimpa suatu kaum krn dosa mk musibah itu tdk hanya menimpa orang yg berbuat dosa saja namun orang yg shalih pun terkena. Ha saja bagi orang yg shalih musibah itu akan menjadi rahmat.

Sumber: www.asysyariah.com

Jumat, 22 Oktober 2010

Balada Mesin Ketik


etika sekarang kita bisa menggunakan iPad dan mengetik di atas permukaan touch screen, itu hanyalah perkembangan mutakhir dari tawaran teknologi pemrosesan kata. Tentulah zaman yang semakin maju membawa perubahan-perubahan dalam bagaimana kita melakukan berbagai kegiatan, termasuk dalam cara menuliskan teks. Ke depan, pasti akan ada temuan baru lainnya yang lebih baik.

Namun, belum begitu lama lalu, mesin ketik merupakan alat yang paling populer digunakan. Sejak penggunaan komersil pertamanya di tahun 1870, mesin ketika bertahan lebih dari seratus tahun dalam dunia penulisan teks. Paling tidak sampai akhir 1980an atau awal 1990an, barulah mesin ketik mulai diambil alih oleh word processor komputer. Itu pun, tentunya, di negara-negara maju saja terlebih dahulu. Sedangkan di negara-negara berkembang, keberadaannya masih tetap dominan sampai beberapa tahun kemudian.

Ketika merapikan berbagai koleksi buku dan perlengkapan lainnya, saya pun menemukan kembali mesin ketik yang dulu selalu saya gunakan di masa-masa kuliah. Sekitar dua dekade lalu. Warnanya sudah menguning sekarang, tetapi masih tetap kelihatan solid. Bermerek Brother (Deluxe 850TR), mesin ketik saya itu semula berwarna putih, dengan dasar hitam. Hanya tuts Tab saja yang berwarna merah. Saya memang tidak memiliki pita (ribbon) baru yang bisa dipakai, namun mesin ketik saya itu jelas masih bagus dan bisa dipakai.

Walaupun sudah tidak pernah memakai, namun saya masih selalu menyimpannya. Lebih karena aspek sentimental daripada kegunaan. Mesin ketik ini adalah yang kedua, karena yang pertama telah rusak ketika masih mahasiswa dulu. Nilai sentimentalnya bagi saya sangat terkait dengan fakta bahwa mesin ketik Brother saya itu sangat akrab dengan berbagai karya tulis yang dulu saya hasilkan. Termasuk tentunya, skripsi setebal hampir 500 halaman tentang rezim otoriter Brazil dan proses transisi demokrasi yang terjadi. Berbagai artikel, cerpen, puisi yang saya tulis, baik yang kemudian dimuat di beberapa media massa nasional maupun daerah, atau pun yang masih tertinggal di laci arsip dan belum tersentuh lagi sampai saat ini.

Sekarang sudah pasti bahwa sebagian besar orang sudah lebih lengket dengan word processor komputer. Kendati demikian, hal itu ternyata tidak berarti bahwa mesin ketik sudah tidak lagi dipakai. Komputer tidak dengan serta merta menggantikan begitu saja mesin ketik. Sampai sekarang pun, masih ada banyak orang yang tetap bertahan menggunakan mesin ketik. Mereka bukan saja sekedar orang yang gagap teknologi atau enggan belajar menggunakan komputer. Bahkan, mereka itu juga termasuk para penulis, pengarang, wartawan dan sebagainya, yang bergelut dalam dunia tulis menulis.

Merek mesin ketik yang dulu berkembang juga cukup banyak. Yang unggul seperti Royal, Remington, Brothers, IBM dan beberapa nama besar lainnya. George Orwell menggunakan mesin ketik Remington, misalnya, sedangkan Hemingway memakai Royal; dan John Steinback, Hermes Baby. Memang mereka generasi pengarang yang lebih awal sehingga tidak sempat bermasa kreatif di era komputer yang lebih belakangan.

Namun, pengarang-pengarang terkenal yang hidup sampai sekarang pun ternyata masih juga ada yang bertahan. Frederick Forsyth yang membuahkan banyak karya besar, termasuk Days of the Jackal, bersikeras menggunakan mesin ketik dan tidak mau beralih ke komputer. Seperti dikutip, ketika ditanya bagaimana dia menulis, ia hanya menjawab ringan: “Dengan mesin ketik”.

Menurut Forsyth yang menggunakan mesin ketik sejak zaman tahun 1960an, mesin ketik itu”…tidak memerlukan listrik, tidak memerlukan baterai, tidak perlu dicas ulang. Pitanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain sampai tintanya habis.” Ia juga menegasakan bahwa dengan mesin ketik tidak akan ada kejadian salah tekan tombol sehingga tiba-tiba tujuh bab novel yang ditulis tak sengaja terkirim ke internet. Sambil bercana, ia pun mengatakan bahwa “Mesin ketik juga sangat aman karena tentu tidak bisa di-hack oleh siapa pun.”

Juga disebut-sebut nama-nama lain seperti Don DeLillo yang karya besarnyaUnderwood; Will Woodard Self yang menulis Tough Boys. Beberapa wartawan senior pun disebut masih bertahan menulis dengan mesin ketik. Menurut perusahaan mesin ketik besar milik Jepang, Brother, produk mesin ketik elektronik mereka terjual sebanyak 12 ribu buah tahun 2008 lalu di pasar Inggris. Betul, bahwa Inggris sampai saat ini merupakan pasar terbesar di dunia untuk mesin ketik dengan daya serap yang jauh lebih besar di banding negara-negara lainnya. Pertanyaannya sekarang, mengapa?

Mengapa masih menggunakan mesin ketik, ketika komputer tersedia dan dapat sangat membantu? Dari beberapa pengakuan pengarang yang menggunakan, mesin ketik itu membuat konsentrasi lebih utuh dan bebas dari berbagai pengganggu (distractions). Komputer yang di Barat sangat biasa terkoneksi langsung dengan internet justru dianggap memiliki banyak sekali faktor pengganggu. Ketika sedang menulis, penulis mudah terbawa gangguan seperti mengecek email, membaca berita, memeriksa update social networks dan lain sebagainya. Padahal, bagi seorang penulis konsentrasi penuh merupakan faktor yang sangat penting dalam berkarya.

Ada juga yang mengatakan bahwa menulis dengan mesin ketik membuat otak kita bekerja lebih fokus dan lebih efektif. Komputer, karena kemudahan yang ditawarkannya, membuat penulis cenderung asyik mengoreksi dan merevisi tulisan, menghapus (delete) sana sini, belum lagi kalau tulisan yang dikerjakan tiba-tiba hilang karena komputer hang atau salah teken tombol. Seorang wartawan mengatakan bahwa menulis dengan mesin ketik memaksa diri kita untuk menghasilkan tulisan satu kali dan final, sehingga proses berfikir dalam menuangkan tulisan lebih jernih.

Tentu ada banyak sebab lain yang bisa disebutkan tentang mengapa mesin ketik memiliki keunggulan tersendiri. Beberapa penulis di era sekarang pun, sekali pun menggunakan mesin ketik, juga tetap menggunakan komputer untuk kepentingan-kepentingan lain. Kelemahan mesin ketik tentunya bahwa teks yang ditulis apabila ingin direvisi atau diproduksi ulang akan menjadi lebih sulit dilakukan. Sebagian besar kita pun sekarang lebih senang menerima kemungkinan untuk menuangkan sesuatu di atas layar komputer dan kembali memperbaiki dan memolesnya kemudian dengan lebih mudah.

Saya ingat ketika dulu menggunakan mesin ketik di tengah malam sampai pagi, sementara inspirasi sengan kuat-kuatnya. Tak tik tak tik tak tik, suaranya yang terdengar memenuhi kesunyian malam. Sebagai mahasiswa yang tinggal mengontrak di rumah petak, suara mesin ketik saya tak henti-henti itu barangkali terdengar seperti suara mitalyur yang juga membuat tetangga tidak nyaman. Terpaksa saya menaruh mesin ketik di atas handuk atau lembaran selimut agar suaranya lebih teredam, ketika mengetik di tengah malam.

Bengkulu,22 Oktober 2010 sumber : kompas

Kamis, 21 Oktober 2010

ROTASI DAN MUTASI PEJABAT SEBAGAI SARANA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KARIER PEGAWAI


Sebagai konsep kebijakan dalam kepegawaian, Rotasi yang menurut saya memiliki arti filosofi lebih dalam dari Mutasi (yang lebih bersifat teknis) justru tidak tersurat dalam peraturan kepegawaian di Republik Indonesia. Baik Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, maupun Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil tidak menyebut istilah Rotasi atau Rolling.

Bagi saya rotasi atau rolling memiliki pengertian memutar atau menggilir penempatan pejabat struktural maupun fungsional dari satu jabatan tertentu ke jabatan lainnya yang ditetapkan dalam sebuah kebijakan yang bersifat Compulsary. Sementara itu, istilah mutasi dalam arti perpindahan, lebih memiliki pengertian teknis yaitu tentang bagaimana mengatur mekanisme pemindahan pejabat yang terkena kebijakan perputaran jabatan.
Dari gambaran tadi, maka yang menjadi obyek rotasi ataupun mutasi adalah pejabat baik struktural maupun fungsional.
Pada kesempatan ini saya tidak akan mengajak Saudara-saudara untuk mendalami rotasi ataupun mutasi dalam konteks teknis peraturan perundang-undangan. Saya justru ingin mengajak Saudara-saudara untuk mendekati hal tersebut dari latar belakang filosofi konsep kebijakan publik yang mendasari dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai rotasi atau mutasi.
Peranan Rotasi Dalam Sistem Penyelenggaran Kepegawaian. Rotasi memiliki peranan penting dalam sistem penyelenggaraan kepegawaian dari sebuah organisasi. Paling tidak ada 3 (tiga) manfaat/kepentingan yang dapat ditarik dari rotasi, yaitu kepentingan dinas, kepentingan pejabat yang bersangkutan, dan kepentingan publik. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Kepentingan Dinas (Re. Psl. 22 UU Nomor 43 Tahun 1999)

Perputaran jabatan merupakan alat yang dapat digunakan oleh manajemen perkantoran untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan antara lain:

a. Sebagai sarana evaluasi penugasan pejabat.

Rotasi adalah alat yang penting dan efisien bagi pimpinan kantor untuk melakukan penilaian terhadap pejabatnya, apakah kinerja yang bersangkutan meningkat atau menurun dari jabatan lainnya yang pernah dipegangnya. Dari evaluasi ini pimpinan kantor akan mengetahui kecocokan jabatan yang paling tepat untuk diberikan kepada stafnya, sesuai dengan disiplin ilmu, keterampilan, dan karakter yang dimiliki. Dengan demikian, pimpinan dapat menempatkan pejabatnya pada jabatan yang paling tepat sesuai dengan kemampuannya (The right man on the right place). Tanpa melakukan rotasi, maka pimpinan unit kerja tentu tidak akan pernah tahu kemampuan dan kinerja pejabatnya.

b. Sebagai sarana meningkatkan produktivitas kerja.

Melalui rotasi, pimpinan unit kerja akan tahu keunggulan dan kelemahan kinerja pejabatnya. Dari evaluasi/penilaian atas keunggulan dan kelemahan ini, maka pimpinan dapat menempatkan stafnya dalam jabatan yang tepat. Dengan demikian, produktivitas kerja yang bersangkutan akan maksimal pada jabatan barunya, dan pada gilirannya kantor akan mendapatkan manfaat berupa meningkatnya produksi (out come).

c. Sebagai sarana pembinaan PNS.

Manfaat lain bagi kedinasan, rotasi dapat dijadikan sebagai alat untuk membina pegawai. Sebagai contoh, pejabat yang ditempatkan pada jabatan tertentu ternyata telah sering melakukan kesalahan, maka pimpinan dapat melakukan pembinaan dengan merotasi yang bersangkutan pada jabatan lain.

d. Sebagai sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa (Re. Psl. 9 PP Nomor 100 Tahun 2000).

Rotasi dapat digunakan pula sebagai sarana untuk memperkokoh NKRI. Pelaksanaannya dilakukan dengan memberikan kemungkinan untuk memindahkan pejabat dari satu daerah ke daerah lainnya di seluruh NKRI. Misalnya pejabat Bappeda Provinsi Papua dipindahkan ke Provinsi Riau, atau pejabat Kabupaten Tangerang ke jabatan tertentu di Provinsi Sulawesi Utara dan sebagainya. Melalui cara ini, maka para pejabat terikat dalam rasa persatuan dan kesatuan kerja dalam bingkai NKRI.

2. Kepentingan Pegawai.

Bagi pegawai, rotasi memiliki beberapa manfaat yaitu:

a. Memperluas pengalaman dan kemampuan.
Dengan banyaknya perpindahan jabatan yang dialami oleh pegawai, maka dapat dipastikan yang bersangkutan akan memiliki banyak pengalaman. Pengalaman tersebut, diharapkan akan meningkatkan kemampuan baik pengetahuan (knowledge) maupun keterampilan (skill).

b. Menghilangkan hambatan psikologis pejabat.
Rotasi akan dapat memberikan kesegaran baru bagi pejabat. Rasa jenuh dan depresi yang menghimpit karena kelamaan bekerja pada jabatan tertentu diharapkan akan hilang, setelah dilakukan rotasi. Suasana kerja baru diharapkan dapat memicu motivasi untuk maju dan mendatangkan tingkat produktivitas kerja yang lebih baik lagi. Tantangan-tantangan baru dari tugas di jabatan baru, diharapkan akan mendorong yang bersangkutan untuk bekerja lebih giat lagi.

3. Kepentingan Publik.

Bagi publik (masyarakat) rotasi diharapkan akan memberikan keuntungan antara lain cepatnya layanan jasa kepada mereka. Pegawai/pejabat yang terlepas dari kejenuhan dan merasa fresh dalam menjalankan tugasnya yang baru akan memberikan pelayanan yang jauh lebih baik daripada mereka yang selama bertahun-tahun melakukan pekerjaan yang sama di tempat yang sama pula.

Ekses Tidak Adanya Rotasi
Dari gambaran arti penting rotasi tadi, maka Saudara-saudara akan dapat membayangkan tentang bagaimana jika sebuah kantor tidak pernah ada kebijakan rotasi. Berikut ini, saya berikan gambaran ekses dari tidak adanya rotasi.

1. Kontrak mati

Istilah ini memang agak kasar untuk ditampilkan, tetapi bagi saya, justru kata inilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi ekstrem dari tidak adanya kebijakan rotasi dalam suatu organisasi. Pegawai yang sampai dengan pensiun bekerja pada satu unit kerja tertentu, tanpa merasakan pengalaman bekerja pada unit kerja lainnya menurut saya adalah seorang yang sangat perkasa. Tentu yang bersangkutan adalah orang yang sangat kuat karena mampu menahan kejenuhan dan depresi yang luar biasa. Bagi mereka yang tidak tahan, pengalaman menunjukkan banyak pula yang meninggal dunia di pertengahan perjalanan, sebelum yang bersangkutan memasuki masa pensiun. Kondisi inilah yang saya sebut dengan Kontrak mati.

2.Chauvinisme sempit

Ekses negatif lain dari tidak pernahnya seorang pegawai bekerja pada unit kerja lainnya, adalah timbulnya apa yang disebut chauvinisme sempit. Bekerja dan menikmati pengalaman kerja pada unit kerja yang sama, selama bertahun-tahun tanpa merasakan pengalaman kerja di tempat lain, akan dapat menimbulkan perasaan bahwa tempat yang bersangkutan bekerja adalah unit kerja yang paling hebat. Kebanggaan dan kesetiaan yang tumbuh terhadap unit kerjanya akan menimbulkan anggapan unit-unit kerja lainnya sebagai unit kerja yang tidak sehebat unit kerja dimana selama ini yang bersangkutan bertugas. Kondisi seperti ini akan menjadi lebih buruk lagi, jika pejabat yang bersangkutan merasa dirinya paling hebat, karena tidak pernah melihat kinerja orang lain di tempat lain. Kalau diamati, pejabat seperti ini seolah-olah seperti “katak dalam tempurung”. Ini sangat berbahaya dan tidak baik bagi budaya kerja dan kelangsungan kerja organisasi secara keseluruhan.

3. Kejenuhan dan Depresi

Lamanya seorang bertugas pada jabatan tertentu akan mengakibatkan kejenuhan dan depresi. Akibat lebih lanjut dari kondisi ini terhadap organisasi, tentu saja akan mengakibatkan produktivitas kerja menurun. Sudah barang tentu, ini merupakan kerugian bagi organisasi.

4. Rotasi / Mutasi adalah hukuman

Tidak adanya kebijakan rotasi atau sangat jarangnya dilakukan rotasi / mutasi, dapat menimbulkan efek negatif bagi suasana kejiwaan pegawai/pejabat. Apabila pada suatu saat, kemudian organisasi melakukan mutasi kepada satu pejabatnya (apakah dalam tataran eselon yang sama dan bahkan lebih tinggi/promosi sekalipun), maka pegawai/pejabat yang dipindahkan dan para pegawai/pejabat lainnya akan menilai bahwa itu adalah “hukuman” atas kesalahan yang dilakukan, atau yang bersangkutan memang tidak disukai. Bagi yang tidak dipindahkan mungkin akan berpikir “salah apa dia?”.
Strategi Keberhasilan Kebijakan Rotasi
Dari gambaran di atas, maka rotasi perlu diadopsi menjadi suatu kebijakan dalam sistem penyelenggaraan kepegawaian dari suatu organisasi. Agar kebijakan ini dapat berjalan dengan baik, di bawah ini disampaikan beberapa strategi sebagai berikut:

1. Kebijakan rotasi perlu diformalkan dalam sebuah Undang-Undang;
2. Perlu adanya sosialisasi yang terus menerus mengenai kebijakan rotasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang;
3. Seluruh pegawai harus “legowo”? menerima kebijakan rotasi. Siapapun harus siap ditempatkan pada posisi/jabatan yang berbeda;
4. Para pimpinan harus rela melepas anak buah terbaiknya untuk pindah dari lingkungan unit kerjanya, ke unit kerja lainnya;
5. Semua stakeholders dalam organisasi maupun di luar organisasi harus memiliki persepsi yang sama akan kebaikan konsep kebijakan rotasi.

Kesimpulan

1. Rotasi perlu dilakukan untuk kepentingan organisasi, pejabat yang bersangkutan maupun masyarakat. Oleh karena itu, rotasi harus dijadikan kebijakan yang wajib diterapkan dalam setiap organisasi pemerintah termasuk di Prov. Bengkulu baik Kab/Kota.
2. Perlu kearifan semua pihak untuk menerima konsep kebijakan rotasi sebagai hal yang positip.
3. Sebagai seorang pengamat sederhana di rantau orang, rotasi/mutasi mempunyai sikap psikologis dewasa bagi yang terkena perputaran tersebut.

Akang : Perantau bukan pejabat struktural/fungsional di Kota Bengkulu.

Selasa, 19 Oktober 2010

Takut Haji dan Haji Takut


Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah merupakan dambaan setiap muslim Sungguh mengundang tanda tanya, bila ada seorang muslim yang nampak sudah memiliki kemampuan namun tak segera melaksanakan rukun Islam ke lima itu. Singkatnya, orangnya sehat lahir-bathin, dana untuk membayar ONH lebih dari cukup, berbagai sarana dan prasarana menuju ke tanah suci, cukup lengkap. Kalau tidak segera berangkat, masih nunggu apa lagi?

“Belum siap mental,” jawab Pak Nunggu, tetangga dekat saya ketika ditanya kapan berangkat ke tana suci. Jawaban itu pula yang diberikan Pak Nunggu kepada istrinya, ketika sang istri mengajaknya segera menunaikan ibadah haji. Maklum, diantara teman dekat, keraban bahkan keluarga, tentu Bu Nunggu lah yang paling tahu kondisi Pak Nunggu luar dalam.

Sikap Bu Nunggu merayu sang suami agar segera pergi haji sangat beralasan. Selain merupakan kewajiban sebagai seorang muslim, Bu Nunggu yakin benar, predikat “Pak Haji” yang bakal melekat di depan nama Pak Nunggu, tentu akan bisa menjadi perisai atau penghalang bagi Pak Nunggu dari berbagai perilaku negative. Harapan Bu Nunggu tentu tidak berlebihan, karena dengan pangkat, jabatan dan pendapatan suaminya yang lumayan tinggi, peluang dan godaan untuk berbuat kurang baik juga makin terbuka lebar.

Sikap dan perilaku Pak Nunggu yang selama ini paling merisaukan istrinya adalah kebiasaannya melirik ‘daun muda’. Entah sekedar iseng sebagai hiburan atau memang tabiat yang belum mampu dihilangkan, Pak Nunggu sering kepergok chatting bahkan bertelepon mesra dengan wanita bersuara merdu. “Godaan inilah yang membuat saya hingga kini belum siap menunaikan ibadah haji,” jelas Pak Nunggu kepada Kang Ipul, teman saya yang kebetulan memergoki Pak Nunggu sedang chatting dengan wanita muda yang entah dimana posisinya.

Jika Pak Nunggu mengaku belum bisa menghilangkan hobinya melirik ‘daun muda’ sebagai alasan penundaan ibadah haji, Kang Ipul justru memiliki prasangka lain. Kang Ipul justru melihat Pak Nunggu belum siap menunaikan ibadah haji karena status pendapatan yang dia peroleh selama ini dirasa tidak cukup “clear” untuk disisihkan sebagian kecil guna membayar ONH. Maklum, jika mengacu pada pekerjaannya sebagai pejabat, sebenarnya kurang wajar kalau Pak Nunggu memiliki tabungan hingga milyaran rupiah. “Dari mana sumbernya kalau tidak dari uang setoran sana-sini,” jelas Kang Ipul berprasangka.

Bila prasangka Kang Ipul benar, saya menilai Pak Nunggu justru termasuk pribadi yang jujur, minimal dengan diri sendiri.. Dia memang takut dan belum siap menunaikan ibadah haji karena setatus hartanya yang tergolong abu-abu. Meski demikian, menurut saya, pribadi Pak Nunggu jelas lebih baik bila dibandingkan dengan sebagian orang/pejabat yang tanpa rasa bersalah menimbun harta dari setoran sana-sini. Entah setoran komisi proyek atau dana siluman yang sering tidak bisa dibuktikan secara hukum. Pribadi model terakhir ini, biasanya sangat bangga menyebut dirinya dengan predikat Haji dan terkadang ditambah dengan nama-nama indah yang mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang shaleh. Naudzubillah min dzalik. Semoga tidak banyak pejabat publik di negeri ini yang menyandang predikat Haji seperti prototype terakhir tadi.

(***)

Lain Pak Nunggu, lain lagi dengan cerita tetangga saya yang satu ini. Namanya sebut saja Haji Takut.
inovassi.com)

illustrasi warung bakso (sumber : inovassi.com)

Dia hanya pedagang bakso langganan saya dan kebetulan berjualan di pasar dekat rumah saya. Sejak pulang menunaikan ibadah haji dua tahun lalu, dia memang sering takut. Maksudnya, takut melakukan perbuatan tercela yang diharamkan agama sekaligus takut tidak berusaha jujur dalam usaha. Apakah ini implikasi kedasaran dirinya agar mampu menyemai nilai-nilai haji mabrur dalam sikap dan perilaku keseharian? Entahlah.

Dalam pengamatan saya, sejak pulang menunaikan ibadah haji dua tahun lalu, kepribadian Haji Takut memang banyak berubah.. Haji Takut nampak berusaha mengimplementasikan nilai-nilai agama yang dia yakini dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dalam hubungannya dengan keluarga, hubungan sosial hingga dalam bisnis baksonya. Ajaran agama yang diperoleh dari sekolah dan berbagai forum pengajian, tidak hanya sekedar menjadi pengetahuan, tapi harus bisa dinikmati dan menjadi landasan dan visi dalam hidup keseharian.

Sebagai pedagang bakso, Haji Takut sudah lama menjalankan usahanya dengan ilmu bisnis konvensional. Agar usahanya baksonya berjalan, syarat pokok yang harus dipenuhi ada tiga E. Petama, Enak rasanya. Maksudnya, produk bakso yang dijual harus memilki cita rasa yang enak, minimal enak untuk ukuran kebanyakan orang. Kedua, Enak tempatnya. Artinya, warung sebagai tempat usaha, harus berlokasi di tempat yang strategis, ruang dan perabot yang bersih serta dilengkapi tempat parkir yang memadai.Sedangkan E terakhir adalah Enak harganya. Maksudnya, harga jual yang ditetapkan harus terjangkau untuk konsumen kebanyakan.

Selain melandasi bisnisnya dengan ilmu bisnis konvensional tadi, Haji Takut juga melandasi bisnisnya dengan filosofi “bisnis dengan Tuhan”. Artinya, Haji Takut selalu berusaha merasakan kemahahadiran Tuhan dalam sikap dan perilakunya dalam mengelola bisnis bakso. Filosofi ini terbukti bisa menghindarkan sikap dan perilaku bisnis culas, bohong dan tipu menipu , baik kepada konsumen maupun kepada para relasi yang memasok bahan baku kebutuhan usahanya. Dengan kejujuran, Haji Takut mampu memelihara relasi dengan para pelanggannya sekaligus memperkokoh dukungan dari para relasinya.

Saya tidak pernah menanyakan, berapa perkembangan omzet penjualan bakso Haji Takut dalam dua tahun terakhir. Hanya saja, yang nampak sepintas memang ada peningkatan. Warung berjualan bakso yang dulu hanya nebeng di emperan toko milik orang lain layaknya pedagang kaki lima lainnya, sudah setahun terakhir, warung Haji Takut berpindah ke ruko kontrakan. Meski mungkin belum mampu membeli ruko dua lantai yang kini disewanya, Haji Takut sering mengaku bersyukur dengan perkembangan bisnisnya yang dirasakan cukup pesat.

Sebagai wujud syukur akan karunia rezeki dari bisnis baksonya, Haji Takut yang sebelumnya hanya menyisikan sebagian penghasilannya dalam bentuk zakat harta dan sedikit infak, kini Haji Takut Sudah memiliki sejumlah anak asuh di panti asuhan yatim piatu tak jauh dari rumahnya. Haji Takut juga mengaku sering tak tahan meredam kerinduan bersama istrinya, untuk kembali memenuhi panggilan Allah ke tanah suci. “Naik haji berulang kali nggak apa-apa, asal dibarengi dengan kewajiban sosil seperti kepedulian terhadap yatim piatu,” ujar Haji Takut memberi alasan ketika ditanya mengapa lebih suka kembali manunaikan ibadah haji, padahal kewajiban haji cukup sekali saja.

Dengan menerapkan filosopi berbisnis dengan Tuhan, kini Haji Takut relatif bisa hidup tanpa beban dalam mengeloa bisnis bakso dan lebih optimistis dalam membangun masa depan keluarga. Dengan sumber penghasilan yang diyakini halalan thoyyiban, Haji Takut yakin penghasilan yang diperoleh dapat memberi berkah dalam membangun masa depan keluarga. Pasalnya, rezeki halal yang mengalir dalam darah daging keturunannya, akan berdampak positif terhadap kecerdasan, sikap dan perilaku generasi penerusnya. “Jangan sekali-kali berambisi menumpuk harta yang tidak halal, berbahaya bagi masa depan generasi penerus kita,’ demikian pesan Haji Takut suatu saat ketika ngobrol menemani saya makan bakso di warungnya.

Meski merasa berhasil dengan bisnis baksonya, Haji Takut juga sering mengakui berbagai kekurangan pada dirinya sebagai manusia. Ditengah makin kerasnya persaingan usaha, yang kadang dimenangkan oleh orang-orang yang nekad menghalalkan segala cara, termasuk dengan bisnis culas dan injak kiri-injak kanan dalam berebut proyek, apakah filosofi bisnis yang dianut Haji Takut masih cukup memberi daya tarik bagi kita, generasi masa kini? Bisakah kita merasakan kerinduan akan panggilan Allah SWT ke tanah suci dengan dukungan rezeki yang penuh berkah seperti dirasakan Haji Takut? Mudah-mudahan masih ada, meski dalam bentuk, skala dan jenis usaha (bisnis) yang berlainan. Mari kita tatap masa depan dengan penuh optimistik. Mata hari masih nampak bersinar terang dibalik bukit, meski harus kita tempuh lewat perjuangan dan kerja keras. Semoga!

Imam Subari
Salam hangat dan tetap semangat