Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Rabu, 08 September 2010

Perempuan Memang Demen Repot


PEREMPUAN ternyata memang demen repot. Suatu survey yang diprakarsai oleh P & O Cruises telah membuktikannya. Hasil survey menyebutkan bahwa ketika perempuan pergi berlibur, kaum perempuan akan membawa pakaian 2 kali lebih banyak dari yang sebenarnya di butuhkan.

Hasil ini sekaligus menjawab rasa penasaran kaum laki-laki yang selama ini mungkin ingin tahu mengenai perlengkapan apa saja dan berapa banyak jumlah pakaian yang di bawa para pasangannya hingga koper mereka terlihat begitu banyak dan penuh.

Survey ini juga menunjukan bahwa tidak semua dari pakaian-pakaian yang dibawa akan digunakan oleh para perempuan. Mereka hanya mengenakan sebagian dari pakaian-pakaian tersebut, sementara sisanya tersimpan apik di dalam kopernya.

Menurut Cary Cooper, seorang profesor dari Lancaster University, alasan perempuan membawa perlengkapan dua kali lebih banyak karena mereka cenderung memiliki insting atau kemampuan melihat yang lebih baik dibanding laki-laki, tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi di depan.

Karena itu kebiasaan membawa barang berlebih janganlah dianggap sebagai suatu bentuk kesalahan. Justru ini menunjukan kelebihan kaum perempuan sebagai makhluk yang terencana dan selalu siap dalam menghadapi sesuatu yang mungkin akan terjadi di luar dugaan.

“Perempuan adalah seorang perencana dan mereka selalu melihat setiap kemungkinan yang akan terjadi. Mereka juga lebih suka berpikir ‘lebih baik selalu siap daripada nanti menyesal’.” Ungkap Prof. Cary, sebagaimana dikutip Conectique.com.

“Itulah sebabnya mengapa mereka mengepak lebih banyak pakaian pada saat pergi berlibur,” tambahnya.(dms)

Hati-hati Pilih Kelas Jauh di PTS!

MEDAN, KOMPAS.com - Masyarakat diminta agar berhati-hati memilih perguruan tinggi swasta (PTS) yang menyelenggarakan program pendidikan kelas jauh. Karena sampai saat ini yang diperbolehkan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan program kelas jauh hanyalah Universitas Terbuka (UT).

Larangan tersebut diduga berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah yang tersebut dalam Undang-undang Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005, yang menyebutkan guru dan dosen harus disertifikasi. Selain itu, berdasarkan UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dinyatakan, PTS yang belum memiliki izin dapat dikenakan hukuman tindak pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda Rp 1 miliar.

"Bagi pengguna ijazahnya juga dikenakan penjara 5 tahun atau denda Rp 500 juta. Untuk itu kami juga sudah mengirim tim untuk melihat keberadaan PTS yang dicurigai membuka kelas jauh tersebut," kata Koordinator Kopertis Wilayah I Sumatera Utara-Aceh, Prof Zainuddin, di Medan, Senin (6/9/2010).

Dia mengharapkan, tim tersebut akan mengetahui PTS yang membuka kelas jauh. Jika terbukti melakukan hal itu, lanjut dia, pihaknya akan melaporkan hal tersebut ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) agar memberikan tindakan yang sesuai.

Menurut dia, sampai saat ini belum ada PTS yang ditutup atau dicabut izinnya karena membuka program kelas jauh. Namun diakuinya, ada beberapa yang telah ditegur secara keras dan diancam tidak akan diberi izin perpanjangannya.

"Kepada PTS yang membuka kelas jauh diimbau agar menutup program pendidikan tersebut. Jika terbukti, bukan saja tidak memperpanjang izin tapi juga menutup PTS-nya," katanya.

Tokoh Minang Besar Karena Kebudayaannya

Tokoh-tokoh Minang sukses tampil mengagumkan di pentas nasional dan internasional tak terlepas dari kebudayaannya. Salah satu ungkapan adat menyebutkan tinggi dek dianjuang, gadang dek diamba. Artinya, tidak ada orang yang yang gadang atau besar dan tinggi karena dirinya sendiri. Dalam konsep alam pikiran Minangkabau seseorang menjadi tinggi karena ditinggikan, besar karena dibesarkan oleh masyarakat.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Sayuti Datuak Rajo Pangulu, mengatakak an hal itu pada Syukuran atas Penganugerahaan Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kepada Irman Gusman Datuak Rajo Nan Labiah, Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI, Senin ( 6/9) malam di Padang.

Irman Gusman Datuak Rajo Nan Labiah sama dengan tokoh-tokoh Minang terdahulu seperti Muhammad Yamin, Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mu hammad Hatta, dan banyak nama lainnya, yang pemikiran dan kiprahnya tak diragukan untuk bangsa dan negara. Salah satu buktinya, Irman Gusman adalah tokoh Minang kedua yang meraih penghargan Bintang Mahaputera Adipradana, katanya.

Acara syukuran dihadiri sekitar empat ratus tokoh Minang dari berbagai kalangan, baik ulama, cendekiawan, budayawan, seniman, wartawan, pemuda, tokoh adat, bundo kanduang, bupati/wakil bupati, tokoh ormas dan kemasyarakatan lain, bahkan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Muslim Kasim.

Irman Gusman yang ditemui sepulang dari Padang, Selasa (7/9) di Jakarta mengaku terharu dengan syukuran yang diadakan berbagai kalangan di Ranah Minangkabau, Sumatera Barat itu. Ranah Minang tempat saya lahir dan tumbuh, telah memberikan banyak inspirasi bagi saya, baik dari aspek agama, sejarah, adat istiadat, dan budaya di mana masyarakat Minang terkenal memiliki budaya yang terbuka sebagai modal untuk menjadi orang sukses, kata Irman Gusman.

Ketua DPD RI ini mengaku belajar banyak dari pengalaman tokoh-tokoh Minang terdahulu seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohamad Natsir, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, termasuk juga dari tokoh senior seperti Harun Zein, Azwar Anas, Emil Salim, dan Fahmi Idris. Semua tokoh tersebut merupakan orang-orang hebat di eranya yang kuat memegang adat Minang namun memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, memiliki wawasan kebangsan global yang sangat terbuka.

Menurut Irman, dengan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana ini, ada rasa tanggung jawab yang besar dan jiwa untuk lebih meningkatkan lagi kiprah dan peran, bukan saja bagi masyar akat Sumatera Barat namun juga bagi DPD RI, yang merupakan lembaga perwakilan daerah yang lahir dari proses reformasi tahun 1998.

Saya akan jadikan momentum ini sebagai inspirasi untuk mendorong kinerja DPD RI agar lebih maksimal, sebab DPD RI yang sat ini memsuki periode kedua memiliki tugas dan tanggu ng jawab yang besar untuk menjaga empat pilar bernegara yakni Pancaila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, serta ikatan daerah-daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memperjuangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat daerah, serta mendorong pembangunan yang adil dan merata antarwilayah, sehingga tidak terjadi diskriminasi dalam pembangunan nasional seperti yang terjadi pada masa yang lalu, paparnya.

DPD RI, lanjut Irman, memang harus mengambil peran yang signifikan mengingat tantangan yang kita hadapi dewasa ini sebagai sebuah bangsa yang besar yang demokratis, multikultural, dan pluralis yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, etnis, dan budaya tidak mudah, sangat beragam dan kompleks.



Kekuatan rantau

Ketua DPD RI itu lebih jauh mengemukakan, Sumatera Barat merupakan provinsi yang dikaruniai dengan budaya, ke indahan alam, masyarakat yang egaliter dan demokratis dan semangat kemajuan serta semangat pendidikan yang tinggi di mana Sumatera Barat selama ini dikenal sebagai wilayah pusat pendidikan, pusat tokoh-tokoh nasional, karena dari Ranah M inang inilah muncul banyak figur pemimpin, baik di pemerintahan, legislatif, bidang seni dan budaya, pers serta kampus.

Namun, semua itu tidak akan membuat Sumatera Barat maju dengan pesat jika tidak didukung oleh kerja keras semua pihak, sinergitas antara kekuatan rantau dan kekuatan ranah, serta tidak ada persatuan di antara semua masyarakat Sumatera Barat.

Di era persaingan global saat ini, saya yakin dan percaya Sumatera Barat akan mengalami kemajuan yang lebih pesat lagi di masa-masa yang akan datang. Hal ini sudah dibuktikan dalam sejarah diaspora masyarakat Sumatera Barat. Seperti ditulis oleh Rodolf Mrazek, penulis buku Sutan Sjahrir, masyarakat Minang memiliki tradisi merantau, berjiwa merdeka, komsmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, jelas Irman.

Dalam pandangan orang Minang yang kosmopolitan, ibaratnya tanaman padi, Ranah Minang hanyalah persemaian untuk menumbuhkan benih, dan setelah menjadi padi mereka harus pindah ke sawah yang lebih luas agar tumbuh besar, berbuah, dan berguna.

Ranah Minang, demikian Irman melanjutkan, memang tidak memiliki kelimpahan sumber daya alam yang banyak, namun orang-orang Minang memiliki keunggulan sumberdaya otak, serta nilai-nilai lokal yang kuat. Hal ini penting karena di erah global sekarang, budya memiliki peranan yang signifikan dalam mendorong kemajuan suatu negara.

Menyontoh Jepang, yang memiliki akar budaya yang kuat: kerja keras, pantang menyerah, inovasi, budaya baca, kerja kelompok, mandiri, di mana sumbangsih atas nilai-nilai itu dengan sikap terbuka pada teknologi dan unsur-unsur globalisasi telah mendotong Jepang m aju menjadi salah satu negara ekenomi terkemuka di dunia.

Artinya, Minang memiliki modal sosial untuk menjadi yang terdepan di Indonesia. Apalagi jika dilihat dari sejarahnya. Ranah Mina ng sejak dulu telah memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa ini, khususnya dengan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa sejak era perintisan kemerdekaan, Proklamasi Kemerdekaan, masa revolusi, hingga era pembangunan dan reformasi dewasa ini, ungkap Irman Gusman.
Laporan wartawan Kompas Yurnaldi

Idul Fitri dan Martabat Manusia

Sekarang kita hidup pada masa yang jauh dari Nabi dan para sahabat, meski agama yang kita anut sama, yakni Islam. Pilar-pilarnya juga sama tetapi nilai pemaknaannya yang sangat berbeda.

Esensi keberagamaan untuk menjunjung tinggi martabat dan kemerdekaan manusia telah dipahami keliru dan melenceng dari yang seharusnya. Tragedi kemanusiaan entah karena kelaparan, karena tindak kekerasan dan kebrutalan, bahkan gara-gara berebut sembako dan uang sedekah menjadi pemandangan memilukan sekaligus memalukan.

Itu semua adalah bukti bahwa keberagamaan kita telah kehilangan esensinya. Ini juga yang menjadi sebab mengapa umat Islam di mana pun gagal menjadi umat terbaik, "khairu umat" yang bermartabat.

Dalam konteks kita ber-idul fitri yang berarti kembali menjadi orang-orang bersih dan suci lewat latihan beribadah satu bulan penuh, kita dituntut memiliki kasalehan ritual maupun kesalehan sosial.

Kesalehan ritual bisa dilakukan dengan pembudayaan shalat berjamaah, yang merupakan gerakan memperkokoh tali silaturrahim. Sedangkan kesalehan sosial bisa melalui jendela-jendela yang diajarkan Islam untuk mendidik umat mengembangkan kepedulian sosial lebih tinggi sehingga kesenjangan sosial ekonomi bisa diatasi.

Orang-orang di luar Islam yang mengagumi kebesaran kitab suci Alquran seringkali merasa aneh terhadap sikap umat Islam, mengapa di masjid sering hilang motor, telepon genggam, laptop, bahkan sandal. Padahal masjid itu tempat suci. Mengapa juga umat Islam malas, padahal banyak ayat mengecam siapa saja yang mengabaikan waktu.

Tolong menolong memang dianjurkan Islam sebagai wujud solidaritas, tetapi apa yang terjadi? Sedekah kita seringkali menjatuhkan martabat manusia bahkan mengorbankan kehormatan Muslim saat pembagian kupon sembako gratis tidak dikelola secara baik. Apalagi sembako yang dibagikan oleh penganut agama lain, sungguh menjadi pemandangan ironis betapa lemahnya kehormatan umat.

Ingat Nabi segera bertindak saat seorang pemuda datang meminta uluran tangan. Nabi tidak membiarkan ada umatnya menengadahkan tangan sebab itu bukan gambaran masyarakat berbudaya dan terhormat.

Satu satunya barang milik pemuda itu dilelang agar bisa membeli kapak jelek yang diperbaiki sendiri oleh tangan nabi. Kapak inilah yang akhirnya menyelamatkan sang pemuda dari kehinaan yakni menempatkan tangannya di bawah.

Nabi juga mengingatkan bahwa yang termasuk manusia termulia adalah orang-orang susah yang tidak mempertontonkan kesusahannya. Kemuliaan serupa tentu dimiliki orang berada yang tidak memamerkan keberadaannya, meskipun melalui jalan kebaikan seperti atas nama membagikan zakat atau yang sejenisnya.

Lihat pula bagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika malam-malam ia datangi sendiri secara diam-diam rumah para warga yang kesusahan. Ia kirimkan langsung apa yang menjadi haknya para kaum lemah.

Umar menjaga martabat mereka hingga tidak perlu menghinakan diri menjadi tangannya di bawah, karena hal ini akan merusak jati diri dan perasaan yang bersangkutan dan merusak pemandangan umum apalagi disorot televisi.

Aneh yang terjadi di masyarakat kita justru menjadi tontonan harian. Di mana letak kesuksesan pengendalian diri dalam hubungan kemanusiaan. Fenomena-fenomena ini rasanya telah menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam pembelajaran agama selama ini. Sehingga terasa ada jarak antara gagasan ideal Islam dengan realitas kehidupan nyata.

Apa yang salah dari pola pembinaan dan perawatan sikap beragama kita? Seolah bangsa Indonesia tercinta ini makin terjauh dari petunjuk Alquran, meskipun di sana-sini keramaian tempat-tempat ibadah makin marak. Tetapi itu hanya seremonial belum yang esensial.

Sesuai hakikat idul fitri sebagai hari kembalinya kesadaran manusia pada fitrah kemanusiaannya, fitrah kemanusiaan kita adalah beriman bertauhid. Tauhid tidak hanya dipahami esanya Tuhan. Tauhid juga berarti satunya kehidupan dunia dan akhirat, satunya kehidupan manusia tanpa membedakan suku, ras agama maupun adat dan bahasa.

Rasullah bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, pasti makhluk yang ada di langit akan menyayangimu."

Ibadah puasa yang akan kita selesaikan nanti ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang harus dibayar sebelum shalat Id. Ini mengandung sebuah tata krama dan etika bahwa kita harus mendahulukan hak kaum lemah, sebelum berdzikir kepada Allah.

Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15, "Qad aflaha man tazakka wa dzakarasma rabbihi fa shalla." Artinya : Sungguh berbahagia orang yang telah membersihkan diri dengan membayar zakat, lalu menyebut nama Tuhannya, dan kemudian mengerjakan shalat.

Ajaran tersebut sangat jelas menekankan pentingnya ketertiban hidup baik tertib ritual maupun tertib sosial. Melalui hidup tertib itu kenyamanan, keamanan dan kedamaian akan terwujud dengan mudah. Maka Id bagi orang berpuasa harus makin memantapkan kita meneladani sifat-sifat Allah dan nabi yang Agung.

Nabi tampil sebagai advokasi kaum lemah, tampil dengan kelembutan bukan hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap binatang dan benda-benda mati. Oleh karena itu rangkaian Id, harus dilanjutkan dengan silaturrahim yaitu kesediaan memberi dan meminta maaf, sehingga tali persaudaraan yang renggang kembali menguat dan kokoh.

Selasa, 07 September 2010

Suami Nyi Roro Kidul Tidak Minta Apa-apa



Kamar No. 13 Hotel Samudra Beach Hotel, Palabuhan Ratu – Sukabumi itu memang magis. Tercium bau (atau wangi ya?) mistik yang sangat kuat di ruangan. Itulah kamar sang Ratu Nyi Roro Kidul, legenda abadi masyarakat Indonesia, warisan alam fikiran Hindu Budha zaman baheula. Didalamnya ada beberapa lukisan Nyi Roro Kidul dalam ukuran besar, dengan wajah cantik namun menyiratkan misteri. Lukisan-lukisan itu adalah karya Basuki Abdullah (pelukis istana zaman Presiden Soekarno). Selain lukisan, kamar yang khusus dipersembahkan untuk sang ratu itu diisi oleh berbagai benda-benda mistik yang menggambarkan seolah Ratu Nyi Roro Kidul memang nyata. Ada juga rupa-rupa kembang, foto-foto dan botol-botol minuman orang yang datang ke kamar itu. Para pengunjung banyak yang datang memohon macam-macam. Padahal, suaminya sendiri seperti dalam foto di atas, tak pernah minta apa-apa. Tangan itu sedang salaman dengan sang istri, sebelum nyi roro kidul melesat lagi terbang dan masuk ke dalam lautan Palabuhan Ratu yang hingga saat ini dan sampai masa mendatang akan tetap misteri. Karena Nyi Roro Kidul sendiri adalah sebuah misteri!! Ini foto-fotonya.