Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Rabu, 07 Desember 2011

PEMIMPIN YANG MAMPU MEMBANGKITKAN BANGSA

Peringatan hari kebangkitan nasional ke 103 pada tanggal 20 Mei 2011, dinilai cukup berbeda. Karena momentum ini diperingati menjelang pemilihan Walikota dan wakil Walikota 15 juli tahun mendatang. Dari peringatan ini kita berharap menumbuhkan kesadaran kepada seluruh warga Kota Bengkulu, bahwa hari ini Kota Bengkulu membutuhkan pemimpin yang mampu mebangkitkan Kota Bengkulu agar bias keluar dari segala persoalan yang tengah melanda.
Kondisi bengkulu hari ini mungkin jauh lebih maju dibandingkan 103 tahun lalu. Pada saat itu Kondisi Bengkulu berada dalam kekurang mengertian, dera penjajahan membuat rakyat menjadi miskin dan menderita. Kaum penjajah memandang kita sebagai bangsa yang tidak bermartabat dan lebih parah lagi tidak sedikit pejabat pangreh praja memikirkan kepentingan sendiri dan jabatannya semata- terutama demi keselamatan dan eksistensi jabatannya . Dalam praktik, mereka pun terkesan menindas rakyat dan bangsa sendiri, hanya sekedar untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.
Mari kita bandingkan dengan kondisi Kota Bengkulu hari ini, tampaknya tidak juga lebih baik dari 103 tahun lalu. Saat ini Kota Bengkulu belum benar-benar terlepas dari penjajahan. Kapitalisme sebagai model penajajahan di era modern, tengah membelenggu kita dengan krisis global yang berkepanjangan. Kondisi perekonomian dan pendidikan rakyat belumlah membaik. Tingginya tingkat pengangguran berbanding lurus dengan tingginya ratting korupsi pejabat. Masih banyak sekali rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Angka putus sekolah karena kurang biaya tidak kunjung menurun. Alih-laih mendapatkan keadilan dan kesejahteraan, harga kebutuhan bahan pokok naik tak terkendali.
Dari catatan sejarah, kita melihat proses berdirinya Boedi Utomo sangatlah sederhana dan alamiah. Budi Utomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, di sela-sela kewajiban kuliah. Deklarasi pendirian Boedi Utomo tahun 1908 jauh dari hiruk pikuk kemewahan, dukungan, spanduk ataupun baliho. Akan tetapi gerakan ini mampu membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia, serta memberikan bentuk perubahan yang berarti bagi bangsa ini.
Berbeda sekali dengan kondisi beberapa kubu pengusung Walikota dan wakil Walikota sekarang ini. Mereka terdiri dari para ahli dari berbagai ragam keilmuan. Walaupun yang mereka suarakan adalah pemberantasan kemiskinan dan membela kaum tertindas, akan tetapi acara yang mereka gelar selalu germelap dengan kemewahan. Dukungan, spanduk, serta iklan di berbagai media gencar mereka lakukan.
Siapapun Walikota yang akan terpilih nanti, akan dihadapkan pada persoalan besar yang tengah melanda kota ini. Tidak mudah untuk membangkitkan Kota Bengkulu dari amukan gelombang krisis global, yang menyebabkan lumpuhnya sector-sektor ekonomi dan berimbas meenggunungnya penganguran di kota ini. Masyarakat yang hidup diabawah garis kemiskinan masih begitu banyak. Harga bahan pokok tidak kunjung stabil, Program pendidikan dan kesehatan gratis dirasakan belum tepat sasaran. Cita-cita terciptanya masyarakat adil dan makmur masih jauh untuk dirasakan rakyat . Dalam upaya membangkitakn Kota Bengkulu dari kondisi tersebut, para calon pemimpin kita harus banyak belajar dari boedi oetomo.
Pertama : konsep kebangkitan bangsa lahir dari sebuah niat yang tulus untuk memperbaiki kondisi bangsa dan rakyat Indonesia, bukan dari ambisi untuk berkuasa. Niat yang tulus untuk mencerdaskan rakyat Indonesia dan membangun kesadaran untuk bangkit melawan penjajahan adalah kunci utama keberhasilan Boedi Oetomo. Sejarah mencatat lahirnya Boedi Oetomo mengilhami lahirnya gerakan-gerakan perlawan terhadap penjajah di tanah air. Membuka kesadaran masyarakat bukanlah memberi janji politik untuk menarik simpati rakyat, seperti yang dilakukan Partai-partai politik hari ini.
Kedua : Gerakan kebangkitan bangsa lahir dari diskusi-diskusi para tokoh yang konsern memikirkan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia, bukan dari lobi-lobi politik untuk berbagi kekuasaan. Dalam benak para pendiri Boedi Oetomo tidak terbersit sedikitpun ambisi untuk memperoleh kedudukan jika Indonesia merdeka. Gerakan yang dibangun betul-betul untuk sebuah perjuangan menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia, dengan satu tujuan kemerdekaan.
Ketiga : Gerakan Boedi Oetomo lebih mengedepankan perjuangan bukan sekedar flatform. Kesederhanaan dalam bersikap dan prilaku organisasi yang mereka tunjukan adalah bentuk perasaan senasib sepenangggungan terhadap kondisi bangsa ini, bukan pembentukan citra untuk menarik simpati.
Mungkin semua prilaku tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh elit-elit politik ditanah air. Kelompok yang mengklaim dirinya sebagai pejuang kepentingan rakyat ini, mengobral janji kemakmuran ditengah pola hidup mereka yang serba mewah, menabur harapan kesejahteraan di tengah keserakahan mereka menginefesiensikan APBD. Dalam kondisi seperti ini kita masih berharap para pemimpin kita mau belajar dari apa yang telah dilakukan Boedi Oetomo, dan para pendahulu kita yang telah mengorbankan jiwa raga, serta pemikiran mereka demi terciptanya kemerdekaan di negeri ini. Karena dengan semangat dan niat yang tulus untuk mengedepankan kepentingan bangsa, negeri ini akan segera bangkita dari segala permasalahan yang tengah melanda.
Akan tetapi jika para calon pemimpin kita lebih focus kepada opera rutin yang mereka biasa lakukan, kita hanya akan melihat bagaiman para aktor politik dan pemimpin kita, secara perlahan merobohkan negeri ini dan mengubur rakyatnya dalam penjajahan dan penderitaan tanpa akhir. Eric Hoffer sudah menuliskan itu sejak tahun 1951: ”Bila gerakan massa mulai menarik bagi orang yang lebih berminat memupuk kedudukannya sendiri saja, ini suatu tanda bahwa gerakan itu sudah tidak lagi bergairah mencipta dunia baru tetapi lebih condong merangkul dan memelihara masa kini. Gerakan itu tidak lagi merupakan suatu gerakan massa tetapi telah menjadi suatu usaha” Jelas sekali kondisi seperti ini sangat tidak kita harapkan. Mari Saudaraku kita harus cerdas dalam menentukan pilihan agar tujuan masyarakat adil dan makmur segera terwujud. Semoga.

1 komentar:

RDA. Gindo Sutan mengatakan...

jadi siapa yg pantas kira2 kang?