Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Jumat, 24 April 2009

TOKO SEPANJANG JALAN RAYA SUKABUMI

Sukabumi : toko-toko sepanjang Jalan Raya
Kota Sukabumi dibelah di tengah oleh satu jalan besar, dari Timur ke Barat. Kalau 40 tahun lalu orang menyebut Jalan Raya, ya jalan besar itulah yang dimaksud. Sekarang mungkin sudah menjadi Jl. Sudirman atau Jl. Ahmad Yani, karena sudah diseragamkan di seluruh Indonesia. Berjalan-jalan di jalan besar itu merupakan satu rekreasi yang paling basic bagi semua orang. Murah tapi menyenangkan. Tidak usah keluar uang tapi kita bisa ”see and be seen”, alias bisa bersosialisasi dengan orang lain.
Yang dilakukan ketika berjalan-jalan adalah melihat etalase toko (apakah ada barang baru), melihat tukang obat jalanan (menunggu bualan, atraksi dan sulapnya yang itu-itu juga), sampai melihat yang remeh temeh (orang menggoreng pisang, membuat martabak, mencampur sirop, membuat kue bantal dan cakwe). Ketika bulan puasa, kegiatan jalan-jalan lebih sering dilakukan. Oleh karena saya sering melakukan jalan-jalan di Jalan Raya, jadi walaupun sudah meninggalkan Sukabumi sekitar tahun 1973, beberapa nama-nama toko lama masih saya ingat dalam kepala. Di sisi Utara
Rumah saya terletak di Jl. Pintuhek atau Jl. Pintukisi, Kebonjati. Belakangan menjadi Jl. Siliwangi. Jl Pintuhek bersambung dengan Jl. Raya di sisi Utaranya.
Di sudut Timur simpang tiga Jl Siliwangi dan Jl. Raya, ada Toko Tiga, di antaranya berdagang kue-kue kering. Ketika adik saya disapih dari minum susunya, ibu saya membeli biskuit disitu. Dari Toko Tiga ke arah Timur, kebanyakan toko tidak mempunyai nama dan kurang menonjol. Jadi sulit untuk menceritakannya. Walaupun begitu, ada satu yang tetap teringat, yaitu Toko Ami. Kami namai begitu karena pemiliknya mempunyai anak bernama Ami. Dari Jl. Siliwangi ke Barat : di sudut ada pabrik teh. Lalu ada Toko Reparasi Arloji. Pemiliknya mempunyai anak bernama Uman dan Dindin. Lalu ada Toko Pembuat Bekleding dan Kanvas Mobil. Pemiliknya mempunyai anak bernama Iyong. Sebelum Kodim, ada Toko Kitab. Di belakang toko ini ada Madrasah. Mungkin madrasah dan toko ini, pemiliknya sama. Dipikir sekarang, Sukabumi cukup banyak mempunyai toko buku dan kitab, taman bacaan dan sebuah perpustakaan di Jl Gunung Parang. Jadi, sebenarnya banyak warga Sukabumi yang intelek. Setelah Kodim dan jalan ke Pasar Darurat dan lapang basket, di sudut, ada Toko Mariana. Berjualan kue. Kami suka membeli semacam kue gambang di situ. Di sebelahnya ada toko P&D. Kami menyebutnya Toko Samonji karena wajah bulat lebar perempuan pemiliknya, mirip dengan wajah tokoh Samonji dalam film samurai yang berjudul The Peacock Throne. Meloncat agak jauh, di seberang PKPN, ada Rumah Makan Soto Ayam. Persediaan ayam untuk sotonya disimpan di rak kaca, sehingga bisa dilihat dari luar. Dari beberapa kali mengamati ayam yang dipanjang disitu, saya pernah punya kesimpulan bahwa ayam yang sudah dicabuti bulunya, dan direbus, bulunya bisa tumbuh lagi. Mungkin juga saya melihat ayam yang berbeda. Tapi siapa tahu. Tidak jauh dari situ ada Toko Sepatu Bata. Untung ada toko ini di Sukabumi sehingga saya langsung mengerti ketika orang melempar istilah ”harga sepatu Bata”. Harga di toko ini tidak pernah bulat, tapi beberapa Rupiah di bawah angka bulat. Misalnya, Rp 11, 985 (kenapa bukan Rp 12.000?) atau Rp 8,999 (kenapa bukan Rp 9.000?). Yang saya ingat, saya pernah membeli sepatu sandal disini. Karena perkenalan saya sudah begitu lama dengan Toko Bata (jauh sebelum Orde Baru membuka pintu bagi investor asing), saya sempat lama punya pikiran bahwa Bata itu merek lokal. Ditambah lagi setelah saya sering ke Jakarta saya menemukan Sungai Kali Bata yang tidak jauh dari Pabrik Sepatu Bata. Saya pikir nama pabrik itu dinamai dengan nama sungai itu, Sungai atau Kali bata. Mungkin juga banyak orang punya pikiran seperti saya. Menyeberang simpangan ke Jl. Cikiray, ada satu toko alat tulis. Dulu disitu saya pernah membeli pinsil merek Great Wall, dan fontainpen merek Ta Tung. Mungkin ini cikal bakal serbuan barang Cina ke seluruh dunia yang terjadi pada sekitar pergantian abad yang lalu. Yang menarik dari toko ini adalah kebiasaan tutup beberapa jam pada siang hari. Dari sini saya menyadari bahwa ada banyak orang secara rutin melakukan tidur siang (siesta). Ada Toko Ida yang menjual pakaian jadi. Orang bilang pemiliknya mempunyai anak bernama Ida, nama kesayangan untuk Lundi farida. Beruntung saya akhirnya berkenalan dengan dia waktu kuliah. Saya juga kenal dengan Wawan, pamannya Ida. Tidak jauh dari situ, ada Toko Rido, berjualan kue. Dagangannya cukup lengkap dan disukai orang sehingga tokonya selalu penuh oleh pembeli. Di depan toko sebelahnya biasanya ada pedagang kaki lima yang menjual comro. Di sebelah Baratnya ada Toko Foto. Kita bisa bikin pasfoto disitu. Atau bikin foto dengan gaya, berlatar belakang gambar Hotel Indonesia, atau tempat lain yang indah. Di tahun 1970-an, ada hal baru diperkenalkan disitu, yaitu mesin yang membuat duplikat dari dokumen-dokumen. Sekarang mesin seperti itu dinamai mesin fotokopi. Sekarang, mesin fotokopi akan berasosiasi dengan toko ATK, tapi pada waktu itu mungkin akan lebih mudah kalau bisnis fotokopi dimulai di toko foto.
Sebelum simpang empat berlampu lalu lintas, ada Toko Bahagia yang berjualan kain sarung, sandal kulit, kitab dan sejenisnya. Setelah simpang empat, di sudut, ada Tukang Gigi. Di seberang Bioskop Katri ada Toko Buku Agung milik Pak Ahmad. Walaupun toko ini dibuka belakangan, tapi cukup laku. Mungkin karena Pak Ahmad adalah juga seorang guru, maka dia mempunyai informasi buku apa yang menjadi pegangan di sekolah-sekolah. Selang beberapa toko, ada toko yang menjual alat dan mesin pertanian. Terus ada toko yang menjual obat tradisonal seperti jamu, arak, anggur kolesom. Di sebelahnya ada toko bahan pakaian kepunyaan orang India, nama tokonya Taru Martani.
Setelah Gg. PGRI ada Toko Bogor. Toko ini sangat besar, menjual berbagai macam barang dari pakaian sampai alat tulis. Display-nya tidak se-sophisticated Toko Ida, mungkin itu sebabnya harga disitu lebih murah. Di antara kantor cabang BNI dan Bioskop Gelora ada Toko Komik. Lantai toko buku komik ini dilapisi oleh ubin yang terbuat dari lempengan batu. Tidak jauh dari Bioskop Gelora ada Toko Reparasi Raket. Anak pemiliknya adalah juara badminton di Sukabumi. Waktu saya mereparasi raket disitu, tanpa diminta, cerita itu mengalir dari mulut sang ayah. Di sudut jalan ke Gedung Sandiwara Sri Asih dan Bioskop Garuda, ada Toko Mas Mahkota. Anaknya sekolah di SMA yang sama dengan saya. Teman-teman memanggilnya si Udel. Kalau saya perhatikan, nama toko mas di Sukabumi hampir semuanya dimulai dengan huruf M.
Di sudut yang lain dari pertigaan itu ada Toko Sepatu Ciliwung.
Lalu ada Toko Sepeda Ban Liong. Pemiliknya biasanya langsung bicara dengan para pembeli. Cara bicaranya khas seorang laki-laki Cina tua. Toko Seribu menjual pakaian. Modelnya bagus-bagus, modern Di sepanjang jalan yang melingkari Bioskop Mayawati, ada toko buku komik, tempat bilyar, toko makanan burung, toko piringan hitam, Toko Buku Ming Nen, markas Cabang Veteran RI dan sebuah toko pakaian.
Masih di Jalan Raya, di sudut yang menghadap ke alun-alun, ada sebuah toko optik.
Setelah alun-alun, ada tempat tukang cukur rambut langganan ayah saya, namanya Mang Oja. Saya sangat terpesona dengan kursi cukurnya yang banyak fiturnya, mirip dengan kursi dokter gigi: bisa naik turun, bisa reclining, padahal hanya terbuat dari kayu. Pisau untuk mengerik kumis, jenggot dan cambang, biasanya diasah pada selembar kulit. Setelah dicukur biasanya ada acara memijit pundak, lalu kepala diputar sampai terdengar bunyi krek.

Di sisi Selatan
Di seberang Toko Ami, ada kios penjual minyak tanah dan solar. Orang-orang bilang pemiliknya bernama Martimbang. Di totogan Jl. Pintuhek, ada sebuah toko. Pemiliknya mempunyai anak yang bernama Jafar dan Ali. Tidak jauh setelah Jl. Baros, ada Rumah Makan milik Mang Kowi. Sangat laku. Makanan sekitar empal, usus, babat, kulit, ayam, sop dan sejenisnya. Karena tempatnya sempit, banyak orang yang membeli untuk dibawa pulang. Seperti biasa, kalau ada usahawan yang laris maka isu negatif mulai beredar. Katanya Mang Kowi memuja ini dan itu. Tapi tetap saja rumah makan dia penuh pengunjung. Di sebelah Pompa Bensin ada Bengkel Mesin Tik. Yang menarik di jejeran itu adalah PKPN. PKPN adalah singkatan dari Pusat Koperasi Pegawai Negeri. Pada masa jayanya PKPN inilah yang memasok beras untuk pegawai negeri di Kotamadya dan Kabupaten Sukabumi. Pasokan beras adalah yang sangat penting ketika pada jaman Orde Lama, ketika banyak rakyat Indonesia sudah mencampur nasinya dengan jagung, atau makan bulgur, demi tercapainya kebijakan Berdikari. Sebagai bagian dari bisnisnya, PKPN juga membuka toko yang menjual macam-macam barang.
Hampir di depan Toko Rido, ada sebuah Toko Kopi. Kalau tidak salah namanya Toko Nam Hong. Tidak hanya menjual tapi juga mengolah kopi, sejak biji, disangray, ditumbuk dan dibungkus dengan kertas coklat bergaris-garis. Lewat di depan toko itu sangat menyenangkan, karena harum yang keluar dari kopi. Hampir dekat simpang empat berlampu lalu-lintas (satu-satunya pada waktu itu), ada Toko Peci Nasional. Menjual peci, kain sarung, kitab dan sejenisnya. Di sebelah Bioskop Katri ada Toko Buku. Di sebelah Gang Nugraha, ada Toko Karuhun. Ini semacam salon kecantikan untuk ibu-ibu.
Sebelum jalan ke Pasar Gede, ada rumah teman saya yang bernama Olleke. Mungkin dulu orangtuanya membuka toko. Lalu ada toko penatu atau wasserij, yang sekarang populer dengan nama laundry. Di depan Bioskop Gelora ada restoran yang menjual es shanghai. Di totogan jalan Garuda ada Toko Surabaya. Di sebelahnya ada gang dimana Lena tinggal. Terus ada toko mas yang pemiliknya punya anak bernama Ling-ling.
Agak menyimpang dari Jl. Raya. Di Jl. Pelabuhan ada Toko Tjeng (baca "Toko Ceng"). Toko ini menjual alat-alat dan bahan-bahan untuk membuat kue. Tokonya sangat besar, mungkin karena tidak ada saingan, atau mungkin karena sangat banyak ibu-ibu di Sukabumi yang senang membuat kue. Di sebelah kantor pos, ada Toko Buku Sumur Bandung. Ukuran sangat besar. Kalau waktu itu sudah ada Gramedia, tentu ukurannya akan sebesar ini. Setelah Bioskop Indra, ada BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan). Bank ini terletak di sudut Jl. Loji yang menuju ke Markas Pemadam Kebakaran atau sebagian orang menyebutnya brandweer. Brandweer ini terletak disamping rumah Bupati yang tepat menghadap ke alun-alun.