Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Kamis, 19 Januari 2012

Pentingnya PAUD dalam Tumbuh Kembang Anak


Saat anak dilahirkan, ia sudah dibekali Allah SWT dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya pada saat setelah di luar kandungan. Bayi yang baru dilahirkan memiliki lebih dari 100 miliar neuron dan sekitar satu triliyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang – cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun – trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan.

Banyaknya sambungan antar sel otak inilah yang akan menentukan tingkat kompleksitas kemampuan berpikir atau kecerdasan seseorang. Dengan kata lain, semakin banyak sambungan antar otak yang terjadi, akan semakin cerdaslah pemiliknya. Sebaliknya apabila ada bagian otak yang tidak digunakan, maka sel – sel bagian otak itu akan termusnahkan (antrophy).

Terbentuknya sambungan sel–sel otak anak itu harus ada rangsangan dari luar. Rangsangan tersebut diterima oleh indera, selanjutnya dapat mengaktifkan sel–sel otak. Semakin banyak indera yang diaktifkan, semakin banyak pula rangsangan yang dapat diterima oleh anak. Menurut teori lama, diantara lima indera yang biasa disebut sebagai ‘pancaindera’ indera penglihatan yaitu mata, mempunyai peran yang paling besar. Jika misalnya indera mata tidak dapat berfungsi lagi, misalnya buta, maka fungsi dari mata tersebut didistribusikan ke indera – inderayang lain, hingga fungsinya semakin kuat. Kejadian seperti ini di dalam ilmu jiwa dikenal dengan istilah ‘fikariat pancaindera’. Dalam contoh sehari–hari orang ynag matanya tidak berfungsi lagi mempunyai kelebihan dapat mendengarkan secara lebih cermat, misalnya mampu menjadi penyetem alat musik. Pemijat tuna netra dapat merasakan dengan indera rabaannya lebih cermat dibanding dengan orang awas.

Permainan–permainan yang diciptakan oleh para ahli dimaksudkan untuk memperkuat fungsi indera. Ditinjau dari pemberian rangsangan untuk mendukung perannya meningkat kecerdasan anak, latihan tersebut sungguh sangat relevan dengan peran yang lebih yaitu belajar, penambahan ilmu pengetahuan dan perolehan hasil pembelanjaran yang lain. Apabila indera fungsi secara maksimal ketika anak mengikuti pengembangan diri, pasti apa yang diperoleh menjadi maksimal pula.


Pengalihan Tugas

Tidak bisa dipungkiri bahwa kian hari semakin banyak yang tidak diajarkan orang tua kepada anak – anaknya. Terutama yang masih berusia dini. Hanya selang 3–4 bulan sejak kelahirannya, bayi – bayi mungil itu sudah ‘diserahkan’ oleh ibunya kepada para pengasuh anak atau baby sitter. ‘ harus kembali sibuk mencari uang ( untuk anaknya/), itulah alasan yang kerap diuangkapakan. Benarkah demikian? Denghan logika sederhana, alasan ini sangat mudah dipatahkan. Karena bila sang ibu sampai harus ikut mencari uang, berarti keluarga tersebut sedang kekurangan uang. Dengan kondisi seperti ini, pastilah ia tidak akan mampu menggaji pembantu, tetapi kenyataannya mereka tinggal di perumahan yang layak bahkan mewah dan bisa menggaji pe,bantu (bahkan lebih dari satu). Lalu mengapa mereka tetap sibuk mencari uang? Tidak tertutup kemungkinan, karena tidak ingin obsesi privadinya terganggu oleh kesibukan mengasuh dan mendidik anak. Akibatnya, segeralah bayi mungilnya melewatkan hari – hari bersama si pengasuh asyik menonton sinetron atau acara tv yang tidak sesuai untuk pandangan si kecil.

Orang tua hanya bisa terkaget – kaget ketika bayi mungilnya mengucapkan kata – kata atau pun melakukan tindakan yang tidak pantas diucapkan / dilakukan oleh anak seusianya. Tidaklah aneh bila anak menjadi lebih mendengarkan kata pengasuhnya dari pada nasihat orang tuanya. Bila tidak demikian, proses pendidikan anaknya, diserahkan pada guru. Semakin trend, anak–anak usia 4 tahun sudah disibukkan dengan aneka jadwal les. Bahkan anak – anak (tepatnya bayi) yang belum juga genap 1 tahun sudah dimasukkan sekolah. Mereka mempelajari keterampilan hidup seperti berjalan, makan, minum, tidur, buang air kecil,dsb. Dari para guru. Sangat menyedihkan. Sebab sesungguhnya, orang tualah guru terbaik bagi anak usia dini. Ada sentuhan kasih, yang tidak dapat digantikan ibu guru. Sambil mandi ibu bisa mengajar anak tentang kebersihan, kesehatan, anatomi tubuh, berbahasa (asing), berhitung, menulis bahkan pelajaran agama. Sambil memasak, ibu bisa berhitung, mengenal warna, mengenal bentuk, mencintai tanaman,dsb. Sambil menonton televisi, ibu bisa mengasah imajinasi anak,meningkatkan kesokatannya,dsb. Karena semua tu diajarkan dirumah, dalam suasana bermain, oleh sosok yang sangat dekat dengan anak, dalam suasana yang santai dan penuh kasih sayang, yang tidak terbatasi oleh waktu dan sangat fleksibel maka potensi keberhasilannya lebih besar. Terl;ebih bila hal – hal tersebut diajarkan pada saat tepat, yaitu masa pekanya.


Tumbuh Kembang Anak

Orang tua dan orang–orang yang terdekat dengan kehidupan anak, memberi pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbyhan dan perkembangan anak. Hasil penelitian yang dilakukan The Reiner Foundation,menyebutkan 10 hal yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan status kesehatan dan perkembangan otak. Hal itu dilakukan dengan cara memberi pengalaman langsung dengan menggunakan inderanya (penglihatan, pendengaran, perasa, peraba, penciuman), interaksi melalui sentuhan, pelukan, senyuman, nyanyian, mendengarkan dengan penuh perhatian, menanggapi ocehan anak, mengajak bercakap–cakap dengan suara yang lembut, dan memberikan rasa aman. Sentuhan – sentuhan tersebut sangat membantu dalam menstimulasi otak menghasilkan hormon yang diperlukan dalam perkembangan.

Bertitik tolak dari hal ini, pendidikan dalam kerangka pembentukan kebisaan berpikir dan bertindak anak haerus mensinergikan aspek–aspek tumbuh kembang anak. Aspek–aspek tumbuh kembang anak yang harus dikembangkan mencakup aspek : a) perkembangan keimanan dan ketaqwaan, b) perkembangan budi pekerti, c) perkembangan sosial – emosional, d) perkembangan disiplin, e) perkembangan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, f) perkembangan daya pikir, g) perkembangan seni dan kreativitas, serta, h) perkembangan kesehatan jasmani, termasuk fisik. Pengelompokkan aspek–aspek tumbuh kembang sebagaimana disebutkan di atas adalah untuk mempermudah pengukuran hasil belajar dalam upaya pembentukan kebiasaan berpikir dan bertindak sebagai hasil dari proses pembelanjaran dalam mencapai tujuan pendidikan. Kebiasaan berpikir dan bertindak sebagai refleksi dari pemiliknya sejumlah kemampuan berupa pengetahuan, keterampilan, dan nilai – nilai dasar perlu dilakukan sejak tahun – tahun pertama kehidupan anak.


Metode Pengamatan

Proses pengamatan menjadi langkah penting yang dilakukan dalam PAUD. Pengamatan ketika anak diajar mengambil air minum, yang mengamati btul atau salah bukan hanya guru saja, tetapi beberapa anak yang lain disuruh mengamati. Sesudah itu anak ditanya, apakah langkahnya benar, apakah cara tiap – tiap langkah juga sudah benar. Dengan metode pengamatan seperti ini anak akan mendapatkan nilai tambah yang lain. Ketika masing – masing anak ditanya apakah cara mengambil air minum sudah benar atau belum, selain anak lebih memahami cara yang benar, juga ada kesempatan untuk berlatih mengeluarkan pendapat, atau lebih sederhananya, berlatih berbicara. Dalam berlatih berbicara tersebut, pasti mau tidak mau akan tergeraklah kerja otak anak yang bersangkutan. Pengamatan terhadap kegiatan , guru dapat menggunakannya terhadap hampir semua perilaku anak di sekolah. Misalnya di kelas, setiap kegiatan dapat diamati oleh anak lain. Waktu makan kue,tidak lupa guru dapat meminta anak untuk mengunyahnya secara pelan – pelan sambil dirasakabn, ada rasa apa sajakah yang terdapat di dalam kue, asin, asam, manis , pedas. Di luar negeri, metode pengamatan bagi anak usia dini sangat diutamakan dan ditekankan sekali dalam kebijakan pendidikan. Dalam kegiatan bermain misalnya, anak bukan hanya diberi alat – alat langsung bermain, tetapi terlebih dahulu diminta mengamati alat – alat yang akan dipakai, disuruh menyebutkan apa warnanya. Bentuk alat itu seperti apa, dan bagaimana cara menggunakan dalam permainan. Diyakini oleh mereka, bahwa dengan mengamati secara cermat apa yang dilihat, otak anak pasti akan aktif, sehingga sambungan sel otak dengan sel yang akan menjadi efektif. Demikian juga dengan peningkatan fungsi pendengaran, perabaan, dan fungsi indera yang lain.

Latihan berpikir melalui penajaman pengamatan ini dapat dilakukan dengan maksud melatih satu indera atau semua indera sekaligus. Pada waktu guru memberi sebuah alat untuk bermain, misalnya bel yang digunakan untuk memperhatikan bentuknya, kemudian dibunyikan untuk mendengarkan suara bel mulai dari yang kurang nyaring, berangsur – angsur makin nyaring, dan dari pelan menuju cepat. Jadi dari media bel saja guru dapat menyuruh anak usia dini mengamati dengan menggunakan indera mata, telinga, dan perabaan.

Metode pengamatan ini dapat dilakukan melalui kerjasama antara guru dengan orang tua. Dalam catatan prestasi dari guru. Mungkin ada sebaiknya terdapat rincian tentang kemampuan anak usia dini dalam mengucap, mengamati, dengan mata, dengan indera telinga, dan sebagainya. Mungkin untuk sementara waktu orang tua kurang menyetujui penggunaan metode ini, tetapi apabila sudah mulai diperkenalkan, lama kelamaan akan diterima, dan akan ikut membiasakannya di rumah. Sumber : Karangasem

1 komentar:

Des Pyp mengatakan...

http://www.des.qu.edu.sa