Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Sabtu, 26 November 2011

MALIOBORO, DULU DAN SEKARANG



jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo,Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Malioboro 2009 Malioboro 2010.Nama Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga. Konon, jalan ini memang selalu dipenuhi bunga saat perayaan atau upacara tertentu. Malioboro 2011. Suasana kuno Malioboro masih terasa dengan masih berdirinya gedung-gedung dan bangunan tua peninggalan jaman Belanda. Malioboro 2012. Renovasi gedung-gedung baru membuat romantika Malioboro kuno makin tak terasa. Malioboro kini adalah Malioboro yang modern dan semrawut. Tapi Malioboro tetap saja membuat rindu.

Pusing Tugu Keliling 1755 Tugu Golong Gilig yang tingginya 25 m dibangun Sultan Hamengkubuwono I sebagai simbol miyos sinewaka. 1867 ambruk diguncang gempa dahsyat yang dinamai “Obah terus pitung bumi”. 1889 direnovasi Belanda, dengan tinggi 15 m. Makna tugu Golong Gilig sebagai simbol kekalahan Belanda jadi kabur. Sampai sekarang maknanya belum dikemukakan.
Jogjakarta, 26 November 2011

Cerita dan Rute Perjalanan Bengklu-Jakarta-Jogja



Ini adalah perjalanan perdanaku ke kota Jogjakarta dan terlebih istimewanya lagi perjalanan itu aku lakukan dengan sesepuh Penilik. Berbekal surat tugas dari Disdik Provinsi dan sedikit was-was, akhirnya aku dan sesepuh tadi putuskan untuk berangkat.

Aku ke Jogja dalam rangka melaksanakan koordinasi dan evaluasi di Hotel "Inna GARUDA" dengan sesepuh seperjuanganku Bapak Pa'im. S kami berangkat jam 16.20 wib dari Bengkulu ke Jakarta, berdasarkan prediksi di perjalanan dari Bengkulu-Jakarta “hanya” sekitar 50 menit. Sedikit tersenyum mendengar angka tersebut sehingga kami bisa memperhitungkan seberapa pegal badan dan seberapa panas pantat duduk di atas pesawat. Namun ternyata prediksi kami melenceng jauh sehingga kami harus merasakan ketenangan di atas pesawat Batavia Air. ( itu dibahas nanti deh…. hehe )

Mari lanjutkan ceritanya…

Dengan si Burung Besi ( batavia Air ) berangkatlah kami ke kota yang akan kami “curi” ilmunya tersebut. Kilometer demi kilometer kami lewati dengan masih diselingi candaan khas, namun semakin banyak kilometer kami lalui rasa capek mulai menghampiri dan candaan pun hilang tak berulang lagi. Rute Bengkulu-Jakarta masih santai,.. masuk kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta bibirpun mulai berkicau karena tiket tujuan Jakarta-Jogja sudah habis, jadi jalan yang kami lewati… ( nginap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan bobo di kursi sambil cuci mata, masuk angin, perut lapar, haha......kasian deh lu.... ).

*PENTING untuk diperhatikan bagi para pembaca yang akan mengikuti jejak saya, hehe…

Perjalan lintas kota yang dilewati sampai tulisan ini diterbitkan banyak duka dan suka yang dilalui di sana-sini sehingga perlu sedikit waspada untuk kenyamanan perjalanan.

Benar-benar pengalaman tak terlupakan untuk kami…

Setelah kembali ke rute yang sebenarnya penantian panjang kami lanjutkan kembali dengan menumpang pesawat LION AIR pukul 05.55 Wib Jakata tujuan Jogja hingga akhirnya kami sampai didaerah Jogja pada pukul 07.10 Wib.

Begitulah akhir dari cerita…

~ Rute yang kami gunakan :
(BENGKULU – JAKARTA) SANGAT LANCAR..........PESAWAT BATAVIA AIR
(JAKARTA - JOGJA) LANCAR SIH (PESAWAT LION AIR) CUMA NGINAP SEMALAM DIBANDARA SOETA JAKARTA...heee....he....

SEJARAH BERDIRINYA KOTA YOGYAKARTA


Keberadaan Kota Yogyakarta tidak bisa lepas dari keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang memperjuangkan kedaulatan Kerajaan Mataram dari pengaruh Belanda, merupakan adik dari Sunan Paku Buwana II. Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada hari Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiulakhir 1680 atau bertepatan dengan 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi yang telah bergelar Susuhunan Kabanaran menandatangani Perjanjian Giyanti atau sering disebut dengan Palihan Nagari . Palihan Nagari inilah yang menjadi titik awal keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Pada saat itulah Susuhunan Kabanaran kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Setelah Perjanjian Giyanti ini, Sri Sultan Hamengku Buwana mesanggrah di Ambarketawang sambil menunggui pembangunan fisik kraton.

Sebulan setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tepatnya hari Kamis Pon tanggal 29 Jumadilawal 1680 atau 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta dan memiliki separuh dari wilayah Kerajaan Mataram. Proklamasi ini terjadi di Pesanggrahan Ambarketawang dan dikenal dengan peristiwa Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram – Ngayogyakarta. Pada hari Kamis Pon tanggal 3 sura 1681 atau bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintahkan untuk membangun Kraton Ngayogyakarta di Desa Pacethokan dalam Hutan Beringan yang pada awalnya bernama Garjitawati.

Pembangunan ibu kota Kasultanan Yogyakarta ini membutuhkan waktu satu tahun. Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan dari Pesanggrahan Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Peristiwa perpindahan ini ditandai dengan candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal berupa dua ekor naga yang kedua ekornya saling melilit dan diukirkan di atas banon/renteng kelir baturana Kagungan Dalem Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlathi. Momentum kepindahan inilah yang dipakai sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta karena mulai saat itu berbagai macam sarana dan bangunan pendukung untuk mewadahi aktivitas pemerintahan baik kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap. Berdasarkan itu semua maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada tanggal 7 Oktober 2009 dan dikuatkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.


Sumber :
Risalah Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No 6 Tahun 2004.

Minggu, 13 November 2011

Dalam Pilkada Kota Bengkulu Tahun 2012 Siap Menang Ya Harus Siap Kalah


Kebanyakan bentrokan pilkada terjadi setelah pemilihan berlangsung, tatkala hasil pencoblosan mulai dihitung dan tanda-tanda kemenangan jatuh pada salah satu pasangan calon walikota dan wakilnya. Kerusuhan lebih banyak terjadi setelah pencoblosan daripada tatkala berlangsung kampanye.

Latar belakang, alasan, sebab protes, kerusuhan, dan bentrokan itu hampir-hampir klasik, ya itu-itu juga, yakni tuduhan terjadinya kecurangan dan pelanggaran hukum. Penghitungan suara dinilai oleh salah satu pasangan cela, digelembungkan, direkayasa. Panwaslu, panitia pengawasan pilkada, tidak independen dan netral. Bahkan KPU Kota/Kab, Komisi Pemilihan Umum, pun digugat. Protes muncul disertai unjuk rasa. Unjuk rasa melanggar aturan karena tak terkontrol, maka terjadilah bentrokan dengan petugas ketertiban umum.

Bisa juga bentrok antar pendukung peserta pilkada. Kejadian itu tentu saja disiarkan oleh media massa karena peristiwa itu menarik ataupun karena itulah cara media melakukan kontrol. Kesan dan dampak pun terbuka, serentak, dan interaktif.
Harapan kita adalah demokrasi yang damai tidak disertai unsur kekerasan. Termasuk juga kebebasan menyampaikan pendapat termasuk melalui unjuk rasa yang damai.

Apabila sampai terjadi ekses bentrokan dan kekerasan, tentunya hal itu menjadi perhatian yang serius bagi semua pihak yang terlibat dan berkepentingan. Sebab, demokrasi tentu saja tidak menghendaki dan menjauhi kekerasan.

Oleh sebab itu, inilah tugas dari pihak-pihak yang terlibat dalam pilkada untuk bekerja sesuai dengan jalur hukum yang berlaku tanpa adanya penyimpangan dan kecurangan yang disengaja atau karena kelalaian dalam seluruh proses pilkada. Kedewasaanlah faktor utama dalam hal ini, terutama siap menang dan siap kalah. Bagaimanapun juga, kemenangan salah satu kontestan adalah kemenangan kita.
Oleh : Akang Perantau

Kamis, 10 November 2011

Pil kada dan Pil Istri


Beberapa waktu kedepan di Kota Bengkulu akan mengadakan Pilkada. Disana-sini orang sibuk berargumen seperti di terminal angkot, pangkalan ojek, loket travel, loket bus, loket pembayaran PDAM/Listrik/Telpon, antrian di teller Bank, pasar tradisional, Bengkulu Indah Mall (BIM), Mega Mall (Memo), warung pangsit, pecel lele lesehan, pasar ikan dan ayam serta sayur. Ratusan bahkan ribuan orang bercerita ditempat tersebut mengemukakan pendapatnya masing-masing hingga terdengar keras suara mereka sehingga membuat sebagian lain tersenyum. Sebenarnya secara teoritis manajemen merupakan luapan perasaan rakyat akan harapan dan asa di masa datang agar ekonomi berjalan dengan baik dan menguntungkan semua pihak.

Para pemilih yang berhak memilih yaitu yang sudah nikah serta sudah berumur 17 tahun keatas. Padahal sengketa Pilkada dari beberapa daerah lainnya masih berlarut-larut. Sidang PHPU (Perselisihan Hasil Pemilihan Umum) Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Mahkamah Konstitusi (MK) terus berlangsung untuk menegakan keadilan bagi pihak yang bersengketa. Puluhan para pendukung kandidat yang kalah bersaksi dan memberikan argumentasinya agar pasangan mereka bisa menang di Mahkamah Konstitusi.

Mau menang Pilkada memang terkait dengan jumlah pemilih, lihatlah program KB (Keluarga berencana) dimana bertujuan umum membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya serta pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Disinilah dalam KB alat kontrasepsi sangat berperan penting, salah satunya adalah PIL KB. Telad minum Pil KB pasti akan mengakibatkan kehamilan dan akan menambah penduduk. Banyak penduduk pasti akan memenangkan pilkada bagi pasangan tertentu, sedangkan sedikit penduduk (pemilih) pasti pasangan itu akan kalah.

Seorang wanita berkata, “Sudah minum Pil KB mengapa bisa hamil, apa yang salah dengan pil KB”. Wah…sudah pastilah karena ya…ya…ya… iya lah. Pil KB-nya baru sampai tenggorokan, celananya udah sampai lutut!” Dijamin 100 persen pasti hamil.

Untuk mencegah ledakan penduduk menurut perkiraan pada tahun 2060 akan ada 475 juta penduduk seluruh Indonesia, Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) sekarang sangat serius untuk menyukseskan program KB untuk mencegah penduduk bertambah tetapi ini khabar buruk bagi Pilkada karena kekurangan pemilih.