Yendi Widya Kota Bengkulu Bunga Rafflesia Bunga Raflesia Kawan Kawan Kawan Yendi ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH WILUJENG SUMPING

Minggu, 23 Agustus 2009

Cahaya Medan yang Semakin Redup (1)

Kota yang Dibangun dari Daun Tembakau Deli

Secara historis, Guru Patimpus yang mendirikan sebuah kampung yang belakangan disebut Medan. Tapi, seorang Belanda bernama Jacobus Nienhuys-lah yang menjadi pendorong Medan berubah menjadi sebuah kota besar yang terkenal seantero Eropa, Amerika dan Asia.

Penetapan Guru Patimpus sebagai pendiri Medan berdasarkan kesimpulan Panitia Penyusunan Sejarah Kota Medan pada 12 Agustus 1972. Lalu, pada
10 September 1973, DPRD Kota Medan dalam rapat plenonya menerima keputusan yang diambil oleh Panitia Sejarah Kota Medan itu.

Selanjutnya, lewat Keputusan DPRD No 4/DPRD/1975 yang didasari banyak pertimbangan, ditetapkan bahwa hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli

1590. Penetapan itu berdasarkan waktu pertama kali Guru Patimpus membuka kampung bernama Medan itu. Perkampungan itu posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (di sekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Medan Putri.

Menurut bahasa Melayu, Medan berarti tempat berkumpul. Di lokasi itu, diriwayatkan merupakan tempat bertemunya masyarakat dari hamparan Perak, Sukapiring, dan lainnya. Medan dikelilingi berbagai desa lain seperti Kesawan, Binuang, Tebing Tinggi, dan Merbau.

Jhon Anderson seorang Inggris yang melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823, mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam di pertemuan antara dua sungai tersebut.

Penetapan hari jadi itu diperkuat juga oleh tulisan Tengku Luckman Sinar (1991) dalam buku The History of Medan. Menurut “Hikayat Aceh” yang
tertulis di buku itu, Medan sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590.
Menurut Buku “Riwayat Hamparan Perak” karangan Tengku Lukman Sinar SH terbitan tahun 1971, Guru Patimpus merupakan nenek moyang dari Datuk
Hamparan Perak dan Datuk Sukapiring, yaitu dua dari empat kepala suku Kesultanan Deli.

Riwayat Hamparan Perak, dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu. Tapi, naskah asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak terakhir telah hangus terbakar 4 Maret 1946.

Peran Guru Patimpus disambung oleh beberapa orang yang mengembangkan Medan sebagai sebuah kota yang mempunyai bangunan indah dan infrastruktur lengkap.

Seorang yang bisa dikatakan berperan adalah seorang panglima Aceh keturunan India bernama Muhammad Dalik yang bergelar Cut Bintan. Dalam
sebuah pelayaran, Cut Bintan yang juga disebut sebagai Gocah Pahlawan sampai di daerah Labuhan. Ia lalu menikahi adik Raja Sunggal (Datuk
Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, sekitar tahun 1632 dan menetap hingga ajalnya.

Pengganti Gocah, anaknya yang bernama Tuanku Panglima Perunggit pada tahun tahun 1669 memproklamasikan berdirinya Kesultanan Deli. Berdirinya
Kesultanan Deli ini juga salah satu cikal berdirinya Kota Medan. Nama Deli sesungguhnya muncul dalam “Daghregister” VOC di Malaka sejak April
1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Mengingat asal Gocah Pahlawan dari India, ada kemungkinan nama Deli itu
berasal dari Delhi, nama kota di India.

Kesultanan Deli menjalankan politik membuka hubungan dunia luar terutama dengan Belanda untuk mengurangi pengaruh Kerajaan Aceh dan Siak.
Masa kejayaan politik luar negeri Kerajaan Deli berada di tangan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Pada tanggal 6 Juli 1863, seorang pemuda Belanda, Jacobus Nienhuys dan beberapa wakil perusahaan dagang JF van Leeuwen en Mainz & Co membongkar sauh kapal Josephine di muara Sungai Deli.

Nienhuys tiba bersama Van der Valk dan Elliot. Ketiganya dipercaya oleh perusahaan yang sama. Tapi begitu melihat kondisi Medan atau tepatnya
masih disebut sebagai Kerajaan Deli, Van der Valk dan Elliot memilih pulang ke Jawa. Deli masih hutan belantara. Di Jawa, mereka biasanya menyewa lahan rakyat yang sudah digarap dan siap tanam.

Nienhuys, mencoba bertahan dan berkenalan dengan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Akhirnya Nienhuys diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa. Lokasinya berada di Tanjung Sepassai seluas 4.000 bahu. Satu bahu sama dengan 8.000 meter bujur sangkar. Dari sinilah sejarah perkebunan dimulai di Sumatera Utara.

Pada Maret 1864, Nienhuys mengirimkan contoh panen tembakau pertama ke Rotterdam. Para pedagang di Eropa mengakui daun tembakau deli sebagai
pembalut cerutu terbaik yang pernah ada pada waktu itu.

Reputasi tembakau deli segera bocor ke mana-mana, termasuk di Amerika. Pendatang dan pemodal mulai mengalir ke Deli. Kebun-kebun tembakau baru dibuka. Tapi, lahan yang cocok untuk tembakau deli hanyalah antara Sungai Ular di Deliserdang dan Sungai Wampu di Langkat.

Kegagalan penanaman tembakau di luar areal emas Sei Ular-Sei Wampu ternyata membawa hikmah sendiri. Para penanam modal yang tidak ingin rugi
mengalihkan tanamannya ke karet, sawit dan teh.

Nienhuys akhirnya makin berkembang dan mendirikan perusahaan pertama yang berlokasi di Tanah Deli pada tahun 1868. Namanya De Deli
Maatschappij atau Maskapai Deli.

Kehadiran Maskapai Deli telah memberikan karakter baru pada kehidupan sosial di Tanah Deli. Masyarakat dunia berbondong-bondong datang untuk
bekerja atau berniaga. Mereka berasal dari Cina, India, Timur Tengah, Eropa, Afrika dan negara-negara tetangga. Deli saat itu benar-benar
jadi primadona.

Hingga tahun 1891, tercatat 170 perkebunan telah beroperasi antara Asahan hingga Langkat. Untuk kelancaran usaha, mereka pun mulai membangun
infrastruktur permanen. Jalan-jalan utama dibuka, sejumlah pelabuhan dibangun di pesisir pantai timur, dan terakhir jalur kereta api “moderen” ditarik dari Deli ke Labuhan.

Pada tahun 1867, orang masih tidak mengenal Kota Medan. Yang ada hanya Kota Labuhan.Ketika De Deli Maatschappij berkembang dan kebun-kebunnya meluas, Nienhuys memutuskan memindahkan kantornya ke kawasan Kesawan. Alasannya, lokasi itu lebih tinggi dan bebas dari banjir seperti yang sering terjadi di Labuhan. Untuk memasok kebutuhan perkebunan, para pedagang Cina,
Minangkabau, Eropa, India pun ikut membangun pertokoan di sekitar Kampung Kesawan.

Lama-lama, kawasan antara kantor Maskapai Deli (Medan Putri) dan Kesawan menjadi ramai, dan terbentuklah Medan sebagai sebuah kota. Kota ini bisa dibilang kota paling moderen dan indah di Asia hingga tahun 1960-an.
Perkembangan pesat Medan Putri sebagai pusat perdagangan mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. 1 Maret 1887, Ibukota Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang berada di kampung Bahari (Labuhan) juga pindah ke Medan dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891.

Salah satu pendatang yaitu Tjong A Fie. Ia datang dari Canton tahun 1875, mengadu peruntungannya di Tanah Deli bersama abangnya Tjong Yong Hian.
Dia membangun hubungan baik dengan Sultan Deli dan kaum Belanda pemilik perkebunan, sehingga kemudia dia ditunjuk sebagai “Majoor der Chineezen” atau Pemimpin komunitas China. Rumah Tjong A Fie di Kesawan rampung sekitar tahun 1900-an, sebuah bangunan dengan perpaduan arsitektur, China-Eropa dan Art Deco. Tahun 1913 dia menyumbangkan jam kota untuk gedung Balai Kota.

Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente
(Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Berdasarkan “Acte van Schenking” (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas,
Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.

Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan-Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia
di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, RS Elizabeth, Klinik Sakit Mata
dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).

Bahkan, pada tahun 1879, sudah ada orang-orang Eropa yang akan menerbangkan pesawat ke tanah Deli. Pihak Deli Maskapai sudah menyediakan lahan pendaratan di lokasi Bandara Polonia sekarang. Namun, pendaratan baru terjadi pada 1924.Nama Polonia berasal dari nama negara asal para pembangunnya, Polandia (Polonia merupakan nama “Polandia” dalam bahasa Latin). Sebelum menjadi bandar udara, kawasan tersebut merupakan lahan perkebunan milik orang Polandia bernama Baron Michalsky. Tahun 1872 dia mendapat konsesi dari Pemerintah Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Sumatra Timur di daerah Medan. Kemudian dia menamakan daerah itu dengan nama Polonia.

Tahun 1879 karena suatu hal, konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah tangan kepada Deli Maatschappij (Deli MIJ) atau NV Deli Maskapai.
Pada tahun 1924, pesawat Fokker yang diawaki van der Hoop bersama VN Poelman dan van der Broeke mendarat di lapangan pacuan kuda yakni Deli Renvereeniging.

Setelah pesawat pertama mendarat di Medan, pembangunan Bandara Polonia pun digesa. Pada 1928 lapangan terbang Polonia dibuka secara resmi, ditandai dengan mendaratnya enam pesawat udara. Bahkan, sejak tahun 1930, perusahaan penerbangan Belanda KLM serta anak perusahaannya KNILM
membuka jaringan penerbangan ke Medan secara berkala. Seandainya Nienhuys juga kembali ke Jawa, mungkin sejarah akan lain.(*)

Keindahan Kota Medan yang Semakin Redup (2)

5 Tahun Lagi, Bukan Lagi Kota Terbesar

KOTA Medan bisa dibilang kota paling moderen dan indah di Asia hingga tahun 1960-an. Tembakau Deli yang kualitasnya disebut-sebut jarang tandingannya, ikut memberi peran besar.

Lihatlah Medan saat ini. Jalan berlubang di mana-mana. Papan reklame semrawut. Lalu lintas tak beraturan. Bahkan, hingga kini, Kota Medan belum memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan master plan pembangunan. Pemerintah saat ini tidak bisa menjaga warisan pendahulunya.
Kita pantas iri dengan pesatnya pembangunan di provinsi-provinsi tetangga. Seperti Sumatera Selatan, yang telah menjadi provinsi pertama di Indonesia memberlakukan program berobat gratis. Program pengobatan gratis itu berlaku di seluruh daerah kabupaten dan kota di Sumsel. Program itu diberi nama Jaminan Sosial Kesehatan (Jamsoskes) Sumsel Semesta.

Warga cukup menunjukkan KTP atau KK agar bisa berobat gratis di seluruh puskesmas, rumah sakit pemerintah, dan swasta yang ditunjuk. Tak hanya pengobatan, masyarakat juga mendapatkan pelayanan pencegahan, pemeliharaan kesehatan hingga operasi.

Pemprov Sumsel menanggung biaya pengobatan gratis itu untuk sekitar 4 juta jiwa. Lalu sekitar 2,7 juta jiwa penduduk Sumsel lainnya ditanggung oleh pemerintah pusat melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)—dulu Askeskin.

Pemprov Sumsel menyediakan 100 dokter umum dan spesialis, dan ribuan bidan dan perawat kesehatan untuk menunjang program itu.
Program berobat gratis itu tak lain janji kampanye Alex Noerdin sebelum terpilih. Saat itu, Alex berjanji melaksanakan program berobat dan pendidikan gratis dalam waktu satu tahun. Tapi, program itu malah lebih cepat dari janjinya.
Atas pemenuhan janjinya, Alex menerima dua rekor MURI yang diserahkan Senior Manager Project MURI, Paulus Pangka SH. Masing-masing, rekor MURI kepada Gubernur Alex Noerdin terkait provinsi pertama yang menerapkan program berobat gratis di Indonesia. Kemudian, Rekor MURI perwujudan janji politik tercepat 81 hari setelah dilantik.

Selain program berobat, Pemprov Sumsel juga memberikan 2.000 unit rumah gratis untuk warga miskin. Rumah yang akan dibagi gratis itu masing-masing seribu unit untuk tipe 21 dan tipe 36.

Memang, tidak semua warga miskin bisa mendapat rumah gratis itu. Ada seleksi yang dilakukan untuk memperoleh rumah gratis. Pertama adalah mereka yang belum memiliki rumah. Selanjutnya, kedua adalah orang-orang yang memang membutuhkan rumah, dan ketiga bila yang bersangkutan adalah PNS adalah yang berprestasi dan belum pernah dihukum atau sanksi.

Tak hanya dua program itu saja. Dinas Pendidikan Nasional Sumsel kini tengah melakukan persiapan untuk melaksanakan program Sekolah Gratis. Rencananya program Sekolah Gratis akan diluncurkan bersamaan dengan tahun ajaran baru tahun 2009 ini.

Darimana Pemprov Sumsel mendapatkan dana? Ternyata tidak susah.Pemprov Sumsel mengajak 15 kabupaten/kota di Sumsel untuk sharing APBD. Masing-masing menyisihkan dana dana APBD-nya hingga mencapai Rp240 miliar.
Alex Noerdin bekerja sangat cepat. Janjinya saat kampanye bukan sekadar “angin sorga” agar dapat simpati pemilih. Ia tahu memanfaatkan secara benar wewenang pemerintah provinsi sebagai fasilitator dan koordinasi terhadap kabupaten/kota yang punya otonomi.

Padahal, ia baru dilantik bersama pasangan Eddy Yusuf pada 7 November 2008 lalu. Pelaksaan sejumlah program itu tidak membuat pembangunan infrastruktur tersendat. Pemprov Sumsel tahu betul, dukungan terhadap program berobat gratis dan pendidikan gratis, berdampak pada anggaran sejumlah dinas/instansi/badan di lingkungan Pemprov Sumsel.

Salah satunya, anggaran infrastruktur bagi Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Sumsel turun hampir 50 persen. Dibandingkan anggaran tahun 2008 sebesar Rp662 miliar, tahun 2009 Dinas PU hanya kebagian Rp331 miliar lebih.
Tahun lalu, Pemprov Sumsel juga meresmikan proyek-proyek besar seperti antara lain jembatan layang atau flyover Simpang Polda Palembang, rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Universitas Sriwijaya (Unsri). Selain itu, pabrik biodiesel OKU Timur, sistem penyediaan air minum OKU Timur dan Jembatan Teluk II Musi Banyuasin. Lalu, ratusan kilometer jalan lingkar yang antar kabupaten/kota di Sumsel.

Bisa dikatakan, APBD Sumsel terbesar dialokasikan di sektor infrastruktur. Kedua di sektor pendidikan lalu kesehatan.Lima tahun lalu, Provinsi Sumsel bisa dibilang provinsi yang “seram” bagi sebagian orang. Jembatan Ampera dan tepian Sungai Musi sempat terpuruk menjadi lokasi kumuh dan budaya premanisme.

Di Kota Palembang, saluran-saluran air tidak ada yang berfungsi baik. Warga Palembang yakin tikus got di kota pempek itu bisa dibilang tikus terbesar di seluruh Indonesia. Lantaran mereka kenyang dan tenang hidup di got-got yang tersumbat.

Bagi sebagian pengemudi yang biasa wara-wiri di lintas Sumatera, dulu jalanan Sumsel adalah jalan terburuk di Sumatera. Disamping fisik jalan yang hancur, juga gangguan bajing loncat.

Tapi kini, jalanan Kota Palembang sangat mulus. Jalan lintas Sumatera di jalur Lubuk Linggau yang biasanya hancur kini bagus. Berita soal bajing loncat pun sudah jarang terdengar.

Jalan yang menghubungkan antarkota dan kabupaten pun sangat bagus. Gedung-gedung tinggi baru seperti akar liar di pepohonan. Bergerak cepat mencari langit.

Jika kita melihat ke Provinsi Sumut, kondisinya sangat berbeda. Gubernur Sumur Syamsul Arifin dilantik pada 16 Juni 2008. Berarti ia dan pasangannya Gatot Pudjo Nugroho sudah memerintah selama 8 bulan atau 240 hari.
Tapi, janji kampanye rakyat tidak bodoh, tidak sakit dan tidak lapar, masih sekadar janji.

Belum ada tanda-tanda janji itu dipenuhi. Pemerintahan Syamsul-Gatot bahkan masih berkutat soal siapa pejabat yang akan mengisi jabatan struktural. Sampai-sampai pengisian jabatan pun dicicil.

Cahaya Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumut mulai meredup. Kota yang disebut sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya itu mulai tenggelam dalam banyak masalah.

Pada masa tembakau Deli berjaya, para pembesar dan golongan aristokrat dunia berbondong-bondong datang ke Kota Medan untuk berpesiar. “Paris van Sumatra”, itulah nama yang layak untuk Kota Medan pada saat itu. Pada tahun 1924, pesawat Fokker yang diawaki van der Hoop sudah mendarat di Medan.

Tan Malaka, salah seorang pejuang republik yang telah melanglang buana ke daratan Asia dan Eropa, sangat memuji keindahan Kota Medan. Ia bahkan mengatakan, keindahan Medan melebihi Kota Shanghai di Cina, kota-kota yang ada di Malaysia dan di Indonesia sendiri.

Kini apa yang masih tersisa?
Pemko Medan bahkan belum punya konsep mengenai drainase primer atau induk di Kota Medan. Dana miliaran rupiah untuk membuat master plan diselewengkan.

Ada kabar peta drainase primer yang dibangun pada tahun 1980-an hilang entah kemana. Lalu, drainase utama yang dibuat Belanda kini sudah ditutupi mal dan gedung bertingkat.

Ironis sekali. Bahkan, pemerintah di Sumut tertatih-tatih hanya untuk membangun satu gedung saja yaitu Gedung Serba Guna. Padahal, pembangunannya sudah melewati masa tiga gubernur.

Apakah anggaran untuk infrastruktur di Sumut kecil? Jawabannya jelas tidak.
Jatah Sumut untuk infrastruktur dari pemerintah pusat untuk tahun 2008 sama yaitu masing-masing Rp500 miliar. Artinya sama dengan jumlah yang diterima Provinsi Sumsel dan Riau. Tapi pejabat di Sumut menganggap jumlah itu masih sangat kurang.

Bahkan, jika dibandingkan dengan Sumut, APBD Sumsel masih kalah besar. Tahun 2008, APBD Sumsel Rp2,7 triliun. Sedangkan APBD Sumut 2008 sudah mencapai Rp3,2 triliun.

Prestise Kota Medan kini sudah dikalahkan Palembang, Makassar, Batam (Kepulauan Riau) dan Pekanbaru. Tiga diantaranya tetangga dekat.
Makassar misalnya. Kota ini tahu betul bandar udara adalah halaman muka mereka. Pemprov Sulsel kini boleh berbangga dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Meski baru selesai 50 persen, dari segi kualitas dan pelayanan bandara itu sudah mengalahkan Bandara Internasional Minangkabau dan Soekarno Hatta. Padahal bandara itu hanya dibangun dengan dana Rp600 miliar.

Pemprov Sulsel kini juga tengah mereklamasi pantai di Tanjung Bunga. Lokasi itu akan jadi pusat bisnis, perdagangan, convention centre, kesenian dan wisata. Sebagian denyut nadi perekonomian akan dipindahkan ke Tanjung Bunga. Ibukota Makassar dirasa semakin sempit.

Selanjutnya Kepulauan Riau (Kepri). Provinsi baru ini sedang membangun mega proyek pusat pemerintahan di Pulau Dompak.

Sebuah pulau seluas sekitar 1.000 hektare di bagian barat Kota Tanjungpinang.
Pusat pemerintahan Kepri akan dibangun di lokasi 957 hektare. Konsepnya akan menyaingi Putrajaya, Malaysia. Dengan dana sekitar Rp1 triliun multi years murni dari APBD Kepri, Dompak akan dilengkapi hotel berbintang, jembatan sepanjang 1,2 kilometer yang menghubungkan Kota Tanjungpinang ke Pulau Dompak, kantor gubernur, dan kantor-kantor instansi, termasuk pengadilan dan kejaksaan, perumahan elit, resort mewah, masjid raya, kampus, mal dan lokasi wisata.

Dengan kucuran dana triliunan rupiah itu, pulau yang sebelumnya hanya diisi dengan aktivitas perkebunan tradisional, dan perikanan tradisional serta penambangan bauksit, kini dipenuhi dengan berbagai aktivitas pembangunan.
Beragam alat berat dan ratusan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia, kini sedang mengubah total wajah pulau itu.
Jumlah pekerja diperkirakan lebih besar dari jumlah penduduk asli pulau yang hanya sekitar 200-an KK itu.

Sejumlah fasilitas pemerintahan, umum, dan sosial kini sedang digesa. Seperti, belasan kilometer jaringan jalan raya yang membelah pulau tersebut dengan lebar sekitar 60 meter, belum termasuk trotoar. Pembangunan jaringan jalan itu sudah memasuki tahap pengerasan di beberapa lokasi, dan diperkirakan sekitar awal 2009 sudah mulai pengaspalan.

Tak hanya itu, Provinsi Kepri juga tengah berancang-ancang untuk mega proyek jembatan yang akan menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Bintan. Rencananya, jembatan laut ini bisa menyamai atau melebihi Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura.

Lalu tetangga terdekat Sumut. Kota Pekanbaru, Riau yang kini menggeliat. Gedung-gedung baru kini merambah ke wilayah pinggiran yang dulu hutan belantara. Jalan Raya Riau-Bangkinang yang dulu hanya dilalui bus-bus antarkota antarprovinsi kini sudah didominasi kendaraan pribadi. Jalan-jalan baru dibuka di kawasan Panam.

Belum lama ini, saya melakukan perjalanan darat dari Medan ke Pekanbaru. Jalan adalah hal pertama yang membuat perbedaan pembangunan Sumut dan Riau. Sejak dari Kota Medan sampai sebelum masuk ke wilayah Riau, rasanya susah menemukan jalan yang tidak berlubang. Tapi, begitu melalui jalan di Provinsi Riau, susah menemukan jalan yang berlubang. Jalan-jalan bagus dan mulus.

Intinya, provinsi-provinsi lain benar-benar sedang bangkit. Saling berkejar-kejaran. Bukan tidak mungkin paling lama 5 tahun ke depan, Kota Medan bukan lagi kota terbesar ketiga di Indonesia. (*)

Tidak ada komentar: